Tag Archives: Samagatha Nilawarsa

Perjalanan Lintas Generasi menuju Gua Buniayu

Ada Dewan Pelopor Jantera, yaitu Kang Bach dan Teh Nenden. Ada angkatan IV Prahara Sangkuriang, yaitu Kang Ogun bersama Teh Yanti. Ada angkatan XXIX Gentra Yudha Kelana, yaitu A Feri “monyong”. Ada angkatan XXXI Samagatha Nilawarsa, yaitu Reza “kumis”, Rizqi “acil” dan Shanny. Serta si bungsu angkatan XXXII Grajag Beswara Sandekala, yaitu saya sendiri, Novi.

Beruntung sekali waktu itu bisa menjadi bagian dalam kunjungan ke Buniayu. Beruntung karena perjalanan tersebut dilakukan bersama senior-senior Jantera. Kang Ogun yang merencanakan perjalanan tersebut, seharusnya kami berangkat bersama mahasiswa Kang Ogun dari STIPAR untuk tujuan pendamping praktikum, tetapi karena beberapa pertimbangan, kesepakatan tersebut akhirnya melebur. Karena tidak enak hati beberapa kali mengundurkan jadwal ke Goa Buniayu, Kang Ogun yang telah mengajak beberapa anggota Jantera akhirnya memutuskan untuk tetap pergi walaupun tanpa mahasiswa STIPAR.

Pelantikan Anggota Utama Jantera 34

Pelataran timur FPIPS seakan menjadi saksi bisu untuk sebagian anggota Jantera pada hari rabu yang bertepatan dengan tanggal 25 November 2015 itu. Hari dimana sebagian dari anggota jantera resmi mendapatkan nomor tanda anggota dan merubah status keanggotaanyya dari anggota muda menjadi anggota utama. Adapun anggota jantera yang mendapatkan nomor tanda anggota adalah Lutvia Resta, Nissa Adlina, Suci Fadhila, Mutia, Devi Sukaesih, Nindi, M. Abia, Novriyanto, Chumaini Ali, Herwan Putra, dan Maryam Silmi.

Selain mendapatkan NTA, anggota jantera yang dilantik pada malam itu pun berhak mendapatkan nilai akhir dari semua mata latih yang telah dilakukan, serta sudah berhak memakai baju tempur Jantera.

Dalam acara yang dihadiri oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Upi dan Ketua Biro Aspirasi DPM HMP Geografi itu berjalan secara khidmat dan khusyu.

Semoga dengan telah berubah nya status keanggotaan dari anggota muda menjadi anggota utama dapat menghasilkan karya-karya lagi. Amin.

Penulis: Rizqi Fadilah (Jantera 31)

Kami Memanggilnya Sekre Emak Summit

Semenjak Gedung Teropong di ratakan dengan tanah dan berganti menjadi taman, keberadaan Sekretariat Jantera di pindahkan ke ruangan yang berada di lantai 2 FPIPS UPI, tepat di samping Kantor Departemen Pendidikan Geografi. Kondisi ruangan yang tak bisa menampung banyaknya barang operasional dan arsip data Jantera yang sudah berumur puluhan tahun, memaksa nyekre di luar kampus sebagai opsinya. Beberapa anggota harus rela kos-kosan nya di jadikan sebagai sekretariat.

Seingatku, ketika pertama kali nyekre di kos-kosan adalah di daerah geger arum. Saya tak pernah di ijinkan untuk bersua dengan tempat ini, ketika itu saya masih anak SMA yang belum terpikirkan untuk masuk Geografi UPI, bahkan masuk jantera. Tak banyak yang aku tahu tentang tempat ini, hanya beberapa cerita dari seniorlah yang membuatku bisa mereka-reka keadaan disana. Konon, tempatnya sempit, di dindingnya terpampang foto-foto kadat terakhir, dan naasnya ketika pindah ke tempat ini banyak barang yang hilang, penyebabnya bukan tak lain karena belum terbiasanya kami untuk berpindah tempat sekedar untuk nyekre di luar kampus.

Untuk Samagatha Nilawarsa

JanteraTerima kasih atas segalanya, Samagatha Nilawarsa. Datang bersama angin dan hujan begitulah kalian. Angin di permulaan tahun 2012 begitu berbekas di ingatanku, angin itu menghempaskan tubuhku di portal tangkubanparahu, mengajakku bercumbu dengan aspal berbatu. Angin yang sama merobohkan bivouack semi alami di sepertiga malam. Rasa dingin yang menusuk kulit dan rasa capek membuat kami tak kuasa untuk sekedar membenarkan bivouack tersebut, terlebih rasa bosan yang menerpa karena sebelumnya bivouack tersebut telah beberapa kali kami benarkan. Jadilah kami tertidur dengan atap yang bolong dimana-mana, dengan keadaan seperti itu air hujan jatuh bebas membasahi kami. Matras yang semula dipakai untuk alas tidur, kami alihkan untuk memayungi tubuh kami, jadilah tanah dan sleeping bag sebagai alas tidur. Seketika bivouack semi alami berubah menjadi bivouack yang sangat alami. Dingin terasa, kami saling berpeluk menghangatkan diri. Tak hangat memang, tapi cukup membuat kami pulas tertidur.

Samagatha Nilawarsa, Lampung telah dirindukan salah seorang dari kita, selesainya masa akademik membuat senyum dia mengembang. Sudah lama tak kulihat dia sesenang itu, senyum yang banyak dirampas waktu dan keadaan. Hingga hari wisuda itu tiba. Ada kegembiraan yang tak terungkapkan dalam hatiku, terlebih melihat wajah yang bersinar cerah dengan toga yang gagah dia pakai, Mahardhika lulus dan pulang kampung. Tahun demi tahun berlalu, sudah lama tak kulihat raut wajahnya, baik-baik sajakah kau di seberang sana har? Sudah berapa cewe yang jadi mantanmu sekarang har? Keluargamu sehat semua kan har?. Oohh iya, ketika dia pulang ke seberang sana, seingatku tak ada satu kata pun yang aku ucapkan. Jika bisa memutar waktu, hanya satu kalimat yang ingin aku katakan kepadanya “Har, hati-hati disana. Jaga keluargamu. Semoga selalu sehat, kuat dan tahan lama har”.

Surat kepada Jantera

Kepada: JANTERA.

Cag!!

Saudaraku  yang budiman, terima kasih telah selalu bergembira bersama, selalu hahahihi di  setiap  penat  menerpa,  tetaplah  melangkah  wahai  kalian-kalian  yang tampan rupawan juga cantik, juga bencong buat Ucin.

Oh  ia saudaraku yang  lur,  jangan lupa minum.  Saya  adalah orang di JANTERA  yang  tidak punya keahlian  apapun  bor.  Tapi kalian iya ternyata kalian punya keahlian yang warna warni.

Mengenal Anggota Jantera yang Diwisuda

13 juni 2016 merupakan saksi waktu yudisium beberapa anggota jantera. Selamat atas gelar sarjana pendidikannya, semoga ilmu yang didapat barokah dan dapat diamalkan sebagaimana mestinya. Sukses untuk kehidupan setelah mahasiswa. Dimanapun kalian berada, dan kemanapun kalian pergi jantera dengan pintu lebar akan terbuka untuk tempat kalian singgah, karena kita adalah keluarga.

Binta Zidni Ilma

Binta Zidni IlmaWanita mungil bertempat tinggalkan di bandung ini memiliki hobi berjalan-jalan. Berjalan-jalan di duni nyata dan di dunia pikiran. Salah satu jalan-jalan di dunia pikiranya adalah mengerjakan skripsi. Skripsi sudah menjadi mantan teman dia, karena wanita jantera angkatan 33 ini sudah dinyatakan lulus dari universitas yang selama ini menjadi tempat belajarnya.

Ada beberapa hal yang disampaikan binta kepada jantera. Jantera itu keluarga yang paling mengerti, karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Jantera menarik dengan style dan kegiatan menjelajahnya, karena kami menjelajah dengan keilmuwan kami dan menghasilkan karya.

Hal yang tidak pernah terlupakan dalam jantera adalah aktivitas yang dilakukan bersama baik secara outdoor maupun indoor. Ada pesan juga untuk jantera, jangan lupa makan, jangan lupa tidur, tetap semangat dan bergerak, dan jangan lupa kalau kita bersama dalam satu keluarga. Akhir kata nuhun jantera. Semangat untuk binta dalam kariernya semoga dilancarkan segalanya, dan kalo naik gunung ketika malam hari diusahakan jangan pakai kacamata hitam, karena malam itu gelap apabila memakai kacamata hitam akan semakin gelap. Takutnya nanti salah ambil pijakan, tapi mantaplah untuk binta yang mendaki puncak rinjani di dini hari dengan kacamata hitamnya. Diusahakan belilah kacamata bening dan pakailah sebagaimana mestinya—HMI