Tag Archives: Rizqi Fadlilah

Pelantikan Anggota Utama Jantera 34

Pelataran timur FPIPS seakan menjadi saksi bisu untuk sebagian anggota Jantera pada hari rabu yang bertepatan dengan tanggal 25 November 2015 itu. Hari dimana sebagian dari anggota jantera resmi mendapatkan nomor tanda anggota dan merubah status keanggotaanyya dari anggota muda menjadi anggota utama. Adapun anggota jantera yang mendapatkan nomor tanda anggota adalah Lutvia Resta, Nissa Adlina, Suci Fadhila, Mutia, Devi Sukaesih, Nindi, M. Abia, Novriyanto, Chumaini Ali, Herwan Putra, dan Maryam Silmi.

Selain mendapatkan NTA, anggota jantera yang dilantik pada malam itu pun berhak mendapatkan nilai akhir dari semua mata latih yang telah dilakukan, serta sudah berhak memakai baju tempur Jantera.

Dalam acara yang dihadiri oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Upi dan Ketua Biro Aspirasi DPM HMP Geografi itu berjalan secara khidmat dan khusyu.

Semoga dengan telah berubah nya status keanggotaan dari anggota muda menjadi anggota utama dapat menghasilkan karya-karya lagi. Amin.

Penulis: Rizqi Fadilah (Jantera 31)

Tentang Engkreg dan Ngalubang

Engkreg dan Ngalubang

Berada di Kabupaten Sukabumi, Cikarang tak ubahnya sebuah desa pada umumnya, sejauh mata memandang bukit-bukit anggun terbentang dengan sawah terhampar di kiri kanan jalanannya. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Sinarbentang di utaranya, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Hegarmulya, Desa Cidadap menjadi batas di sebelah timurnya, dan dua desa di sebelah baratnya yaitu Desa Cipamingkis dan Desa Mekarjaya menggenapkannya menjadi sebuah wilayah di salah satu Kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Cidolog tepatnya.

Adzan maghrib bersahut-sahutan, melantunkan nada yang mendesirkan hati setiap orang. Langit di ufuk barat berwarna keemasan sesekali tertutup awan yang beriringan. Dengan anggunnya, lambat laun sinar mentari seakan hilang ditelan bumi, digantikan sinar rembulan dihiasi gemintang di sekitarnya. Polusi cahaya yang rendah di wilayah ini memungkinkan kita melihat dengan jelas eloknya langit malam.

Kami Memanggilnya Sekre Emak Summit

Semenjak Gedung Teropong di ratakan dengan tanah dan berganti menjadi taman, keberadaan Sekretariat Jantera di pindahkan ke ruangan yang berada di lantai 2 FPIPS UPI, tepat di samping Kantor Departemen Pendidikan Geografi. Kondisi ruangan yang tak bisa menampung banyaknya barang operasional dan arsip data Jantera yang sudah berumur puluhan tahun, memaksa nyekre di luar kampus sebagai opsinya. Beberapa anggota harus rela kos-kosan nya di jadikan sebagai sekretariat.

Seingatku, ketika pertama kali nyekre di kos-kosan adalah di daerah geger arum. Saya tak pernah di ijinkan untuk bersua dengan tempat ini, ketika itu saya masih anak SMA yang belum terpikirkan untuk masuk Geografi UPI, bahkan masuk jantera. Tak banyak yang aku tahu tentang tempat ini, hanya beberapa cerita dari seniorlah yang membuatku bisa mereka-reka keadaan disana. Konon, tempatnya sempit, di dindingnya terpampang foto-foto kadat terakhir, dan naasnya ketika pindah ke tempat ini banyak barang yang hilang, penyebabnya bukan tak lain karena belum terbiasanya kami untuk berpindah tempat sekedar untuk nyekre di luar kampus.

Untuk Samagatha Nilawarsa

JanteraTerima kasih atas segalanya, Samagatha Nilawarsa. Datang bersama angin dan hujan begitulah kalian. Angin di permulaan tahun 2012 begitu berbekas di ingatanku, angin itu menghempaskan tubuhku di portal tangkubanparahu, mengajakku bercumbu dengan aspal berbatu. Angin yang sama merobohkan bivouack semi alami di sepertiga malam. Rasa dingin yang menusuk kulit dan rasa capek membuat kami tak kuasa untuk sekedar membenarkan bivouack tersebut, terlebih rasa bosan yang menerpa karena sebelumnya bivouack tersebut telah beberapa kali kami benarkan. Jadilah kami tertidur dengan atap yang bolong dimana-mana, dengan keadaan seperti itu air hujan jatuh bebas membasahi kami. Matras yang semula dipakai untuk alas tidur, kami alihkan untuk memayungi tubuh kami, jadilah tanah dan sleeping bag sebagai alas tidur. Seketika bivouack semi alami berubah menjadi bivouack yang sangat alami. Dingin terasa, kami saling berpeluk menghangatkan diri. Tak hangat memang, tapi cukup membuat kami pulas tertidur.

Samagatha Nilawarsa, Lampung telah dirindukan salah seorang dari kita, selesainya masa akademik membuat senyum dia mengembang. Sudah lama tak kulihat dia sesenang itu, senyum yang banyak dirampas waktu dan keadaan. Hingga hari wisuda itu tiba. Ada kegembiraan yang tak terungkapkan dalam hatiku, terlebih melihat wajah yang bersinar cerah dengan toga yang gagah dia pakai, Mahardhika lulus dan pulang kampung. Tahun demi tahun berlalu, sudah lama tak kulihat raut wajahnya, baik-baik sajakah kau di seberang sana har? Sudah berapa cewe yang jadi mantanmu sekarang har? Keluargamu sehat semua kan har?. Oohh iya, ketika dia pulang ke seberang sana, seingatku tak ada satu kata pun yang aku ucapkan. Jika bisa memutar waktu, hanya satu kalimat yang ingin aku katakan kepadanya “Har, hati-hati disana. Jaga keluargamu. Semoga selalu sehat, kuat dan tahan lama har”.

Surat kepada Jantera

Kepada: JANTERA.

Cag!!

Saudaraku  yang budiman, terima kasih telah selalu bergembira bersama, selalu hahahihi di  setiap  penat  menerpa,  tetaplah  melangkah  wahai  kalian-kalian  yang tampan rupawan juga cantik, juga bencong buat Ucin.

Oh  ia saudaraku yang  lur,  jangan lupa minum.  Saya  adalah orang di JANTERA  yang  tidak punya keahlian  apapun  bor.  Tapi kalian iya ternyata kalian punya keahlian yang warna warni.