Tag Archives: Lutvia Resta Setyawati

Renungan dari Hutan Wanagama I

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Nanti kita akan berkunjung ke Hutan Wanagama I”, secepat kilat kami menajamkan telinga—memperhatikan apa yang akan dikatakan Bapak X dengan logat Jawa-nya yang khas.

Ah iya, ceritanya kami sedang mengadakan rapat angkatan untuk membahas lokasi KKL Tahap 2, yang kemudian akan dikunjungi beberapa hari setelahnya. Wah, perjalanan yang pasti menyenangkan!” seru kami dalam hati.

Perkenalkan, kami adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI, sebuah prodi yang menawarkan sepaket perjalanan liburan berbasis akademik. Jadi menurutku kami adalah sekumpulan orang yang beruntung, yang bisa belajar langsung dari alam sekaligus me-refresh pikiran dari beban perkuliahan yang terkadang membuat penat.

Benar, namanya adalah Hutan Wanagama I, nama yang terdengar sangat asing di telinga kami (bahkan mungkin juga di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia). Tapi, sepertinya tidak untuk masyarakat Gunung Kidul dan sekitarnya. Hutan Wanagama I bahkan sudah seperti oase menyejukkan di tengah padang gersang yang mereka tinggali selama bertahun-tahun.

UPI Rumah kita

“UPI RUMAH KITA”, slogan yang tersebar di beberapa penjuru kampus pendidikan ber-museum ini ternyata memiliki makna yang dalam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah diartikan sebagai bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan secara psikologis, rumah bisa diartikan sebagai tempat tinggal manusia untuk beraktivitas dalam kondisi damai, tentram, dan menyenangkan.

“UPI RUMAH KITA” merupakan slogan yang sengaja dipasang oleh petinggi UPI agar para penghuni kampus ini sadar bahwa UPI yang biasa mereka kunjungi minimal tiga kali dalam seminggu ini merupakan sebuah bangunan yang harus diperlakukan layaknya rumah.

DPR Negara Jingga

Katanya, ini DPR. Tapi bukan tempat para dasi bertikus duduk dan merapatkan problematika negara dengan tumpang kaki, dahi berkerut, dan senyum samar. Bukan, ini bukan Senayan! Ini DPR yang lain, sebaliknya.

Ini DPR yang sesak oleh pemuda-pemudi riang yang serba ingin tau. Ini DPR, yang katanya Dibawah Pohon Rindang. Ini DPR yang selalu menghadiahkan tawa di hari-hari penghuninya. Ini DPR yang lain, yang katanya Dibawah Pohon Rindang.

Sebenarnya saya tidak tahu dengan pasti kapan DPR ini resmi jadi sekre outdoor-nya Jantera. Oh iya, DPR sebenarnya adalah sebutan untuk sebuah pekarangan mungil depan FPIPS yang nampak sangat sejuk karena dinaungi banyak pohon (alpukat, jambu air, jambu batu, dll).

Mengenal Anggota Jantera yang Diwisuda

13 juni 2016 merupakan saksi waktu yudisium beberapa anggota jantera. Selamat atas gelar sarjana pendidikannya, semoga ilmu yang didapat barokah dan dapat diamalkan sebagaimana mestinya. Sukses untuk kehidupan setelah mahasiswa. Dimanapun kalian berada, dan kemanapun kalian pergi jantera dengan pintu lebar akan terbuka untuk tempat kalian singgah, karena kita adalah keluarga.

Binta Zidni Ilma

Binta Zidni IlmaWanita mungil bertempat tinggalkan di bandung ini memiliki hobi berjalan-jalan. Berjalan-jalan di duni nyata dan di dunia pikiran. Salah satu jalan-jalan di dunia pikiranya adalah mengerjakan skripsi. Skripsi sudah menjadi mantan teman dia, karena wanita jantera angkatan 33 ini sudah dinyatakan lulus dari universitas yang selama ini menjadi tempat belajarnya.

Ada beberapa hal yang disampaikan binta kepada jantera. Jantera itu keluarga yang paling mengerti, karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Jantera menarik dengan style dan kegiatan menjelajahnya, karena kami menjelajah dengan keilmuwan kami dan menghasilkan karya.

Hal yang tidak pernah terlupakan dalam jantera adalah aktivitas yang dilakukan bersama baik secara outdoor maupun indoor. Ada pesan juga untuk jantera, jangan lupa makan, jangan lupa tidur, tetap semangat dan bergerak, dan jangan lupa kalau kita bersama dalam satu keluarga. Akhir kata nuhun jantera. Semangat untuk binta dalam kariernya semoga dilancarkan segalanya, dan kalo naik gunung ketika malam hari diusahakan jangan pakai kacamata hitam, karena malam itu gelap apabila memakai kacamata hitam akan semakin gelap. Takutnya nanti salah ambil pijakan, tapi mantaplah untuk binta yang mendaki puncak rinjani di dini hari dengan kacamata hitamnya. Diusahakan belilah kacamata bening dan pakailah sebagaimana mestinya—HMI