Tag Archives: Haikal M. Ihsan

Kosong

Sebuah kata multitafsir

Banyak sekali definisi terurai

Orang menafsirkannya secara harfiah

Orang menafsirkannya secara bahasa

 

Banyak sekali latar belakang yang berbicara

Mulai dari kalangan elit hingga kalangan bawah

Mulai dari yang beriman hingga berdosa

Mulai dari wacana hingga hitam diatas putih

 

Pulang

Aku suka saat duduk di kamar

Hanya ditemani pemikiranku sendiri

Berpikir akan kepastian

Dan aku sadar kalau aku sendirian

 

Memang benar saat kita terpuruk

Akan beranggapan seperti ini

Orang yang mencoba menghiburmu

Adalah sebagai pengganggu

 

Pantai Karangtawulan Bukit Teletabies

Pantai Karangtawulan

Pantai Karangtawulan

Kala itu matahari berada setengah merunduk ke arah barat, kalau dikira-kira jarum jam berhenti di angka dua lebih wib. Rasa lelah berjumpa pada jiwa dan raga, wajar saja bulan itu merupakan bulan ramadhan. Mau makan dan minum jelas tidak bisa, solusi pasti adalah mencari suasana tenang. Bulan berkah ini merupakan momen saya untuk mencari responden, maklum saya mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan keharusan bersyarat lulus. Saya bersama teman seperjuangan pencari responden Husni, Rizal, dan Cecep berencana bersinggah di sebuah pantai. Persinggahan ini memang sudah kami jadwalkan dari semalam karena beberapa dari kami belum pernah kesana.

Tersentak mata ini, seperti melihat yang belum pernah dilihat. Di Selatan Kabupaten Tasikmalaya terdapat suatu tempat yang membuat saya dan teman saya berfoto narsis. Tempat tersebut bernama pantai karangtawulan.  Pantai merupakan tempat yang romantis untuk mengobrol senja di sore hari. Bagi kalangan umum rasanya sudah biasa dengan tempat bernama pantai, apalagi orang pesisir. Masing-masing pantai memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penggunaan pariwisatanyapun akan berbeda. Pantai karangtawulan ini cocok sekali untuk mengobrol, nongkrong berbagi cerita bersama yang terdekat, tidak pada berenang ceria karena ombaknya yang besar dan kondisi medan yang tidak memungkinkan.

Lebih dekat dengan Jantera 35

_IGP6463

Jantera 35 bersama komandan Pendidikan dan Latihan Jantera 35

Delapan belas hari berlalu, rasanya bangga sekali di umur yang ke 38 tahun JANTERA dapat melahirkan Anggota Muda kembali. Bertemakan, berjuang, berkarya dan bersaudara, 7 mantan siswa Diklatsar xxxv JANTERA mampu menyelesaikan tahapan seleksi menjadi Anggota Muda JANTERA. Syal berwarna putih menjadi tanda kehormatan mereka, yang dimana telah dilukis menjadi berwarna orange. 30 Februari 2016 menjadi saksi sejarah dikenakannya syal orange JANTERA kepada 7 orang yang mampu berjuang, berkarya dan berkeluarga.

Aku padamu putri

Pemandangan dari puncak Gunung putri

Pemandangan dari puncak Gunung putri

Ada banyak pernyataan ketika individu berjalan menuju puncak gunung. Ada orang yang pergi ke gunung untuk berwisata menghabiskan waktu kosong dengan menyegarkan pikiran. Ada yang pergi ke gunung karena tuntutan organisasi, semacam ekspedisi. Ada orang yang pergi ke gunung untuk eksistensi dirinya sendiri, agar orang lain tahu dia pernah kesana. Ada orang yang pergi ke gunung karena penasaran terhadap cerita tentang gunung, semacam mitos, yang diceritakan rekannya atau pemandangan panorama yang megah. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari ilmu dan pengetahuan atau meneliti. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari teman. Ada orang pergi ke gunung untuk menaklukan dirinya sendiri, entah apa yang ditaklukan, emosi kah ? fisik kah ? mental kah ? pikiran kah ? Perbedaan alasan tersebut menghasilkan suatu petualangan yang subjektif. Tidak usah pergi ke gunung untuk menyatakan pernyataan tersebut cukup memperhatikan kehidupan sekitar maka akan terasa pernyataannya. Pergi ke gunung hanyalah suatu cara agar kita dapat merasakan masing-masing pernyataan di dalam diri. Pergi ke gunung hanyalah alat penayang simulasi kehidupan, tetapi berlaku bagi orang yang berfikir.

Orang bilang ketika naik gunung, sifat aslinya akan keluar. Pada dasarnya manusia akan terlihat sifat aslinya ketika dalam tekanan, apalagi tekanan kehidupan yang keras. Begitupun sama halnya dengan naik gunung. Kaki berpijak, puncak di junjung, melewati lembah, melewati tanjakan menyebabkan tekanan alami dirasakan para penggiat gunung. Para penggiat gunung atau lebih popular lagi disebut pendaki gunung akan terlihat sifat aslinya karena mendapat tekanan. Tidak perlu naik gunung untuk melihat karakter seseorang, cukup dengan bersama-sama setiap harinya dan melihat orang tersebut ketika dalam tekanan kehidupan. Naik gunung hanyalah simulasi kecil dari kehidupan. Petualangan sebenarnya adalah kehidupan.

Mengenal Anggota Jantera yang Diwisuda

13 juni 2016 merupakan saksi waktu yudisium beberapa anggota jantera. Selamat atas gelar sarjana pendidikannya, semoga ilmu yang didapat barokah dan dapat diamalkan sebagaimana mestinya. Sukses untuk kehidupan setelah mahasiswa. Dimanapun kalian berada, dan kemanapun kalian pergi jantera dengan pintu lebar akan terbuka untuk tempat kalian singgah, karena kita adalah keluarga.

Binta Zidni Ilma

Binta Zidni IlmaWanita mungil bertempat tinggalkan di bandung ini memiliki hobi berjalan-jalan. Berjalan-jalan di duni nyata dan di dunia pikiran. Salah satu jalan-jalan di dunia pikiranya adalah mengerjakan skripsi. Skripsi sudah menjadi mantan teman dia, karena wanita jantera angkatan 33 ini sudah dinyatakan lulus dari universitas yang selama ini menjadi tempat belajarnya.

Ada beberapa hal yang disampaikan binta kepada jantera. Jantera itu keluarga yang paling mengerti, karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Jantera menarik dengan style dan kegiatan menjelajahnya, karena kami menjelajah dengan keilmuwan kami dan menghasilkan karya.

Hal yang tidak pernah terlupakan dalam jantera adalah aktivitas yang dilakukan bersama baik secara outdoor maupun indoor. Ada pesan juga untuk jantera, jangan lupa makan, jangan lupa tidur, tetap semangat dan bergerak, dan jangan lupa kalau kita bersama dalam satu keluarga. Akhir kata nuhun jantera. Semangat untuk binta dalam kariernya semoga dilancarkan segalanya, dan kalo naik gunung ketika malam hari diusahakan jangan pakai kacamata hitam, karena malam itu gelap apabila memakai kacamata hitam akan semakin gelap. Takutnya nanti salah ambil pijakan, tapi mantaplah untuk binta yang mendaki puncak rinjani di dini hari dengan kacamata hitamnya. Diusahakan belilah kacamata bening dan pakailah sebagaimana mestinya—HMI