Tag Archives: Grajag Beswara Sandekala

Kidulan di sepanjang Garut Selatan

janteraPantai mah kidulan, bermain lagi kesini lain kali ya Nak!” begitulah kira-kira ucap seorang Bapak penjaga penginapan tempat mahasiswa Geografi 2012 melaksanakan praktikum sebelum kami pulang menuju Kota Kembang. Disebut kidulan mungkin karena cerita sang Ratu Pantai Selatan yang telah melegenda di sepanjang selatan Pulau Jawa, tetapi aku sendiri belum mengerti maksud perkataan beliau tersebut. Mungkin ada hubungannya dengan syuting film itu? Atau dengan kelima mahasiswa yang masih belum ditemukan itu? Entahlah. Yang pasti itu adalah Pantai Selatan!


Sisa Kerajaan Melayu di Tengah Pemukiman Batak

Tahta Raja Istana Maimun

Tahta Raja Istana Maimun

Istana Maimun atau sering juga disebut Istana Putri Hijau yang konon katanya didirikan untuk Putri Hijau adalah salah satu dari ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di Kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun. Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888.

Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Timur Tengah, Moghul, Spanyol, India, Belanda dan Italia. Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk pintu dan jendela yang lebar dan tinggi. Tapi, terdapat beberapa pintu yang menunjukkan pengaruh Spanyol. Pengaruh Timur Tengah tampak pada keberadaaan lengkungan (arcade) pada atap, namun sayang keadaannya kurang terurus.

Seperti yang kita ketahui bahwa Medan mempunyai Suku Melayu sebagai suku aslinya. Namun, kini penduduk Suku Melayu hampir tidak tampak keberadaannya karena suku batak dengan mobilitas yang tinggi telah mendominasi. Walaupun demikian, Sang Lancang Kuning tetap berdiri tegak menyombongkan kilau emas nya kepada setiap orang yang melihatnya, sehingga rasa penasaran dan rasa bangga pasti tersirat di hati orang-orang yang melihatnya.

Lebih Dekat dengan Sekjen FKPAA Periode 2013-2015

Tulisan Jantera kali ini akan mengangkat seseorang yang baru-baru ini dipercaya menjadi Sekjen FKPPA UPI, dia adalah Septian Eka Putra. Septian atau yang akrab dipanggil Bang Roges ini lahir di Jakarta pada tanggal 26 September 1989. Dia adalah seorang Mahasiswa Geografi UPI angkatan 2008 sekaligus anggota Jantera angkatan 29 Gentra Yudha Kelana. Pada tanggal 2 November 2013 yang lalu, Lelaki keren yang berbadan sedikit tipis ini terpilih menjadi Sekjen FKKPA pada Kongres FKPPA yang diadakan di FPTK-UPI, dia menggantikan posisi Rifky dari Pecinta Alam Mahasiswa Olahraga (PAMOR) yang menjabat sebagai sekjen FKPPA sebelumnya.

Dengan motto “Jangan takut untuk bilang berani!” Bang Roges membuktikannya dalam Kongres tersebut. Berani mengambil jalan untuk menjadi seorang sekjen di FKPPA patut diacungi jempol, walaupun sebenarnya Bang Roges sendiri tidak terlalu berniat. Tetapi, sekarang abang yang hobi panjat tebing ini siap untuk menjalankan tanggungjawab yang diberikan kepadanya serta menjaga kepercayaan dari anggota FKPPA. FKPPA (Forum Komunikasi Perhimpunan Pecinta Alam) menurut Bang Roges adalah sebuah forum silaturahmi seluruh mahasiswa pecinta alam yang ada di kampus UPI. Sebagai sekjen Septian diamanahi untuk memimpin dan bersedia menampung aspirasi yang dikeluarkan oleh anggota FKPPA.

Bermainlah sebagai atau tidak sebagai Jantera

menelusuri Ci Tarum purba“Mari bermain sebagai Jantera atau tidak sebagai Jantera di Citarum Purba”

Seperti disebutkan diatas bahwa dalam berkegiatan, Jantera sebagai Perhimpunan Pecinta Alam Geografi terbuka untuk umum, dalam artian bahwa yang bukan anggota Jantera pun dapat ikut andil mengikuti kegiatan tersebut, terutama pada saat kita sedang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan disiplin ilmu Geografi.

Sebelumnya, Anda pasti bertanya-tanya apa sih Ci Tarum Purba itu? Awalnya juga saya sedikit bingung mengapa disebut purba, karena biasanya yang disebut purba adalah suatu fenomena yang terjadi dahulu kala dalam jangka waktu yang lama sehingga hanya menyisakan jejak atau sisa-sisa saja. Tetapi, anggapan saya tersebut ternyata kurang tepat untuk menyebut purba yang ini. Setelah diskusi di rumah jingga (baca: sekretariat Jantera) baru sedikit mengerti apa itu Ci Tarum purba.

Membelah lautan hingga matahari terbenam

Bagi kami masyarakat pesisir sudah pasti sering nongkrong hingga renang di setiap sudut lautan kampung kami, terlebih kini sudah banyak pernak pernik fasilitas pantai yang mendukung hingga menghambat konsep wisata di negri yang katanya Sejuta Pesona ini, misalnya saja tempat duduk dan payung pantai sebagai pendukung dan pondok jajanan sebagai pengganggu hati menikmati lautan. Sebuah kampung halaman ini terletak di salah satu sudut barat Pulau Sumatera yang berbatasan langsung dengan ganasnya si Samudera Hindia. Itulah dia Sibolga, daerah yang temasuk sebagai kota terkecil di dunia.

Bosan dengan cara menikmati lautan yang gitu-gitu (nongkrong-berenang) saja, aku dan beberapa teman serta saudaraku memutuskan untuk ikut bermesin ke tengah lautan. Sejak dulu aku penasaran dengan pulau-pulau lain di sekitar tempat tinggalku. Ada yang sering kami kunjungi namun itu hanya membutuhkan waktu 30menit menyeberang yaitu ke Pulo Poncan. Nah, penasaranku ini adalah pulau lain yang berada jauh dari daratan rumahku yang hanya terlihat bayangannya saja dari daratan sini, dan ketika hujan bayangan pulaunya pun tak tampak.