Tag Archives: Gardajita Gaota Sadara

Renungan dari Hutan Wanagama I

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Nanti kita akan berkunjung ke Hutan Wanagama I”, secepat kilat kami menajamkan telinga—memperhatikan apa yang akan dikatakan Bapak X dengan logat Jawa-nya yang khas.

Ah iya, ceritanya kami sedang mengadakan rapat angkatan untuk membahas lokasi KKL Tahap 2, yang kemudian akan dikunjungi beberapa hari setelahnya. Wah, perjalanan yang pasti menyenangkan!” seru kami dalam hati.

Perkenalkan, kami adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI, sebuah prodi yang menawarkan sepaket perjalanan liburan berbasis akademik. Jadi menurutku kami adalah sekumpulan orang yang beruntung, yang bisa belajar langsung dari alam sekaligus me-refresh pikiran dari beban perkuliahan yang terkadang membuat penat.

Benar, namanya adalah Hutan Wanagama I, nama yang terdengar sangat asing di telinga kami (bahkan mungkin juga di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia). Tapi, sepertinya tidak untuk masyarakat Gunung Kidul dan sekitarnya. Hutan Wanagama I bahkan sudah seperti oase menyejukkan di tengah padang gersang yang mereka tinggali selama bertahun-tahun.

Pendakian Gunung Raung

Jalan Setapak Menuju Puncak

Jalan Setapak Menuju Puncak

Gunung Raung merupakan salah satu gunung yang berada di ujung timur pulau Jawa dan termasuk gunung terekstrim di Indonesia. Gunung yang memiliki ketinggian 3344 mdpl ini merupakan gunung tertinggi ke dua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru. Selain itu, gunung yang terakhir meletus Juli tahun 2015 ini memiliki kemenarikan tersendiri, yaitu kaldera nya yang cukup luas serta medan yang cukup ekstrim untuk dilalui para pendaki untuk mencapai Puncak Sejati.

Ada beberapa jalur yang biasa dipakai untuk mendaki gunung raung yaitu Sumber Waringin (Bondowoso), Kalibaru (Banyuwangi), Glenmore (Banyuwangi). Namun karena yang kami tahu jalur via Kalibaru merupakan jalur yang menantang, akhirnya kami melakukan pendakian menggunakan Jalur Kalibaru. Pendakian kali ini beranggotakan 3 orang termasuk saya. Untuk mendaki sampai Puncak Sejati, pendaki diharuskan menggunakan peralatan climbing seperti Harness, tali Kernmantel, Carabiner, figure of eight, dan peralatan lain yang berfungsi untuk mengamankan. Selain itu, ada persyaratan administrasi lain yang harus dipenuhi untuk bisa mendaki gunung ini, diantaranya surat keterangan sehat, fotocopy KTP, dan surat keterangan yang akan diberi saat di basecamp.

Kami berangkat dari terminal Ubung, Denpasar menggunakan bis dengan ongkos 80 rupiah sampai stasiun kalibaru dan sudah termasuk ongkos kapal feri. Perjalanan dari Denpasar sampai Kalibaru kurang lebih sekitar 6 jam. Setelah sampai di depan Stasiun Kalibaru kami langsung disambut oleh beberapa tukang ojek yang nampaknya sudah terbiasa dengan kedatangan para pendaki Gunung Raung.

UPI Rumah kita

“UPI RUMAH KITA”, slogan yang tersebar di beberapa penjuru kampus pendidikan ber-museum ini ternyata memiliki makna yang dalam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah diartikan sebagai bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan secara psikologis, rumah bisa diartikan sebagai tempat tinggal manusia untuk beraktivitas dalam kondisi damai, tentram, dan menyenangkan.

“UPI RUMAH KITA” merupakan slogan yang sengaja dipasang oleh petinggi UPI agar para penghuni kampus ini sadar bahwa UPI yang biasa mereka kunjungi minimal tiga kali dalam seminggu ini merupakan sebuah bangunan yang harus diperlakukan layaknya rumah.

Cerita Bukit Tunggul

Bukit Tunggul merupakan puncak tertinggi yang dimiliki pegunungan lembang atau pegunungan Bandung Utara. Ketinggiannya mencapai 2208 Mdpl. Pada tanggal 4-6 september 2015, JANTERA 34 kembali mengembara dan kali ini tujuannya adalah puncak bukit tunggul. Kami berangkat dari UPI sekitar pukul 17.10 dengan menggunakan kendaraan andalan mahasiswa UPI angkot ST-Hall Lembang. Ditengah perjalanan kami singgah sebentar untuk membeli perbekalan yang belum ada di list. Sebenarnya salah satu saudara kami ada yang sedang ulang tahun. Saudaraku Abia, dia disuruh untuk membelikan minum semacam aqua besar untuk alibi, karena akan mempersiapkan kejutan berhadiah piring cantik. Setelah Abia balik ke angkot maka taraaatttt, kami mengerjai Abia dan merayakan ulang tahunnya di angkot ST-Hall Lembang di parkiran alfamart Lembang. Dengang bermodalkan kesederhanaan Abia meniup lilin dan semoga cita-citanya terwujud. Setelah abia’s Party kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sukaluyu, katanya disana ada jalur pendakian menuju puncak Bukit Tunggul.

Sesampai di Desa Sukaluyu kami mengalami kebingungan karena, ini adalah jalur yang cukup jarang dipakai untuk pendakian. Pendakian bukit tunggul biasanya dimulai lewat jalur pasir angling. kami sampai ketika malam hari dan jarang rumah penduduk kami lihat. Kamipun mencoba untuk membaca medan melalui peta yang kami bawa. Setelah cukup yakin untuk melanjutkan perjalanan, dengan menggunakan headlamp kamipun berjalan dan sampai di pemukiman penduduk. Karena hari sudah cukup larut kami memutuskan untuk menunda pendakian hingga besok dan menginap di sebuah mesjid dengan meminta izin terlebih dahulu ke penjaga mesjid. Sebelum tidur briefing untuk besok dilaksanakan orientasi medan kami lakukan pada peta, selanjutnya bergegas tidur untuk menyimpan energi perjalanan besok.

Menelusuri perut bumi

Stalaktit yang terbentuk di gua Joho

Stalaktit yang terbentuk di gua Joho

Pagi itu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB, namun waktu Indonesia JANTERA masih menunjukkan pukul 04.00, sehingga penghuni sekre JANTERA belum menampakkan kehidupan. Suara gresak-grusuk tim pendahulu yang sedang menyiapkan peralatan caving tidak menjadi gangguan untuk mimpi para penghuni sekre. Baru setelah pukul 09.00 WIB, saya, Ali, Kak Novi dan A windya berangkat menuju Sukabumi Selatan di hari jumat tanggal 4 Juni 2015. Perjalanan menuju Sukabumi Selatan menempuh waktu enam jam perjalanan, belum ditambah dengan waktu istirahat dan sholat di jalan. Langit pun berawan siap menumpahkan seluruh isinya, karena kondisi yang tidak memungkinkan kami memutuskan untuk singgah di SMA 1 Sagaranten tempat Mang Oka senior JANTERA mengajar. Banyaknya terhidang makanan, fasilitas media latihan pemanjatan yang memadai. Migawa anaknya Mang Oka yang lucu membuatku betah lama-lama diam di sana. Pukul 07.00 WIB kami melanjutkan keberangkatan menuju Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi Selatan. JANTERA apabila melaksanakan aktivitas caving selalu singgah dan menginap di rumah warga, sebut saja Mang Nanin. Akses jalan menuju rumah Mang Nanin terbilang sulit, sehingga aku dan si Ali sudah tiga kali jatuh dari motor , sampai akhirnya kami tiba di tempat Mang Nanin.

Kedatangan kami di rumah Mang Nanin disambut hangat oleh A Reza JANTERA 31 yang sedang duduk santai di depan teras rumah. Tak lama kemudian saudaraku 34, kadat bersama kaka-kaka di JANTERA datang. Pada malam hari Ali, Elpin, kadat, Kak Novi, Kak Feni, dan Bang Sahid mengecek gua-gua yang layak untuk dilakukan penelusuran. Keesokan harinya pada tanggal 7 Juni pukul 08.00 WIB kami JANTERA 34 memulai penelusuran gua. Gua pertama kali yang dimasuki adalah Gua Leles dengan tipe vertikal. Kami mengaplikasikan tehnik yang biasa dipakai untuk bergelantungan di pohon DPR depan FPIPS. Tehnik tersebut adalah Single Rope Technique. Kami menuruni gua Leles satu persatu karena jalur yang di buka hanya satu. Setelah Gua leles terselesaikan kami membalik badan menuju gua yang lainnya yakni gua Joho.

Pukul 14.00 WIB kami memulai penelusuran Gua Joho dengan tipe horizontal. Di gua joho kami tidak hanya menelusur melainkan memetakan. Memetakan gua membutuhkan tim keorganisasian, sebelum masuk ke mulut masing-masing dari kami dibagi dan diberi tugas sesuai dengan bagiannya. Kegiatan ini sangatlah menarik, metode arah survey yang digunakan adalah leap frog methode. Arah survey (pengambilan data ) menggunakan top to bottom dan metode pengukuran chamber kami menggunakan offset methode. Pengukuran dimulai dari entrance gua dan berakhir pada ujung lorong gua atau akhir dari lorong gua tersebut mentok. Ketika penelusuran dan pemetaan di pertengahan gua kami menemukan percabangan jalan, setelah berdiskusi akhirnya tim dibagi menjadi dua bagian. Sungguh luar biasa sekali tim pertama menemukan ruang yang cukup besar sehingga tempat tersebut dinamai aula, karena besarnya sebesar aula. Tim kedua melintasi jalur reptil hole selama penelusuran dan kedua tempat tersebut kami petakan. Pemetaan di jalur repltile hole tidaklah mudah. Kondisi reptil hole yang sempit, berair, dan berlumpur mengakibatkan pergerakan terhambat. Tim aula berhasil lebih dulu memetakan bagiannya sehingga zona reptile hole berhasil dipetakan dengan baik. Pemetaan berlangsung dari pukul 14.00-03.30. sangat takjub masuk di siang hari keluar di dini hari, ketika caving ada etika yang harus dipatuhi yakni ”jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak”.

Penulis: Nindi Risna Dewi (Jantera 34)

DPR Negara Jingga

Katanya, ini DPR. Tapi bukan tempat para dasi bertikus duduk dan merapatkan problematika negara dengan tumpang kaki, dahi berkerut, dan senyum samar. Bukan, ini bukan Senayan! Ini DPR yang lain, sebaliknya.

Ini DPR yang sesak oleh pemuda-pemudi riang yang serba ingin tau. Ini DPR, yang katanya Dibawah Pohon Rindang. Ini DPR yang selalu menghadiahkan tawa di hari-hari penghuninya. Ini DPR yang lain, yang katanya Dibawah Pohon Rindang.

Sebenarnya saya tidak tahu dengan pasti kapan DPR ini resmi jadi sekre outdoor-nya Jantera. Oh iya, DPR sebenarnya adalah sebutan untuk sebuah pekarangan mungil depan FPIPS yang nampak sangat sejuk karena dinaungi banyak pohon (alpukat, jambu air, jambu batu, dll).