mau tahu lebih tentang Jantera ? Follow US More »

 

Pendakian Gunung Rakutak

Trek Gunung Rakutak

Trek Gunung Rakutak

Mountaineering Dapat diartikan sebagai kegiatan pendakian gunung. Pendakian gunung adalah suatu olahraga keras, penuh petualangan, dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, keuatan serta daya juang yang tinggi. Hutan gunung merupakan kombinasi dari seluruh mata latih yang telah dilaksanakan sebelumnya. Karena pada saat itu kami ingin menikmati indahnya gunung yang dilalui oleh medan yang lumayan agak sulit, maka kami memilih gunung rakutak sebagai tempat kami melakukan diklanjut ini.

Gunung rakutak identik dengan medan yang sangat terjal dengan banyaknya akar yang menyebar di sepanjang jalur pendakian kami dan gunung ini juga terdiri dari dua puncak yaitu puncak 2 dan puncak utama, dan yang membuat khas adalah kedua puncak tersebut dipisah oleh igir yang lebarnya + 2 meter. Kondisi tersebut sangat menarik dan berkesan untuk dilalui dikarenakan menurut beberapa orang gunung ini merupakan sebuah miniatur dari gunung raung yang lokasinya terdapat di jawa timur, tapi yang membedakan adalah puncak gunung raung tidak di temukan adanya vegetasi melainkan hanyalah bongkahan-bongkahan batu besar, sedangkan puncak gunung rakutak masih terdapat berbagai macam jenis vegetasi rerumputan yang menghalangi kita dari terpaan angin secara langsung. Perbedaan tersebut dikarenakan ketinggian kedua puncak gunung tersebut yang berbeda.

Pesona Kegelapan Guha Cipaku

Stalaktit di Guha Cipaku

Stalaktit di Guha Cipaku

Pada kegiatan Pendidikan Lanjutan JANTERA di mata latih caving ini, saya ditugaskan menjadi orang yang menyiapkan konsumsi, kegiatan menyiapkan konsumsi ini bukan merupakan kegiatan yang sangat saya sukai karena saya kurang biasa memasak. Namun karena sudah tuntutan dan dengan dibantu oleh saudara-saudara saya dan rekomendasi instruktur, saya mengerjakan dengan senang hati pekerjaan ini. Dari DIKLANJUT ini, saya jadi mengerti bagaimana berada di posisi orang yang menyiapkan konsumsi untuk saudaranya yang lain.

DIKLANJUT kali ini di barengi dengan program ANTAREJA JANTERA, yaitu menelusuri dan memetakan gua yang ada di kawasan Sagaranten. Sehingga Instruktur yang datang pun bukan sebagai wisatawan yang datang untuk memantau kegiatan DIKLANJUT, namun melanjutkan program ANTAREJA. DIKLANJUT ini bagi kami semua, AM JANTERA 35, merupakan kegiatan yang lebih menguras tenaga waktu dan dompet dibanding kegiatan pendidikan lanjutan yang sebelumnya, karena kegiatannya yang cukup jauh dan membutuhkan waktu dan uang yang lebih. Kegiatan kami kali ini dilakukan di Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi. Tempat yang awan bagi kami untuk datang ke tempat ini. Karena perjalanannya yang luar biasa dan tidak terprediksi akan seperti itu.

Renungan dari Hutan Wanagama I

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Nanti kita akan berkunjung ke Hutan Wanagama I”, secepat kilat kami menajamkan telinga—memperhatikan apa yang akan dikatakan Bapak X dengan logat Jawa-nya yang khas.

Ah iya, ceritanya kami sedang mengadakan rapat angkatan untuk membahas lokasi KKL Tahap 2, yang kemudian akan dikunjungi beberapa hari setelahnya. Wah, perjalanan yang pasti menyenangkan!” seru kami dalam hati.

Perkenalkan, kami adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI, sebuah prodi yang menawarkan sepaket perjalanan liburan berbasis akademik. Jadi menurutku kami adalah sekumpulan orang yang beruntung, yang bisa belajar langsung dari alam sekaligus me-refresh pikiran dari beban perkuliahan yang terkadang membuat penat.

Benar, namanya adalah Hutan Wanagama I, nama yang terdengar sangat asing di telinga kami (bahkan mungkin juga di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia). Tapi, sepertinya tidak untuk masyarakat Gunung Kidul dan sekitarnya. Hutan Wanagama I bahkan sudah seperti oase menyejukkan di tengah padang gersang yang mereka tinggali selama bertahun-tahun.

Pendakian Gunung Raung

Jalan Setapak Menuju Puncak

Jalan Setapak Menuju Puncak

Gunung Raung merupakan salah satu gunung yang berada di ujung timur pulau Jawa dan termasuk gunung terekstrim di Indonesia. Gunung yang memiliki ketinggian 3344 mdpl ini merupakan gunung tertinggi ke dua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru. Selain itu, gunung yang terakhir meletus Juli tahun 2015 ini memiliki kemenarikan tersendiri, yaitu kaldera nya yang cukup luas serta medan yang cukup ekstrim untuk dilalui para pendaki untuk mencapai Puncak Sejati.

Ada beberapa jalur yang biasa dipakai untuk mendaki gunung raung yaitu Sumber Waringin (Bondowoso), Kalibaru (Banyuwangi), Glenmore (Banyuwangi). Namun karena yang kami tahu jalur via Kalibaru merupakan jalur yang menantang, akhirnya kami melakukan pendakian menggunakan Jalur Kalibaru. Pendakian kali ini beranggotakan 3 orang termasuk saya. Untuk mendaki sampai Puncak Sejati, pendaki diharuskan menggunakan peralatan climbing seperti Harness, tali Kernmantel, Carabiner, figure of eight, dan peralatan lain yang berfungsi untuk mengamankan. Selain itu, ada persyaratan administrasi lain yang harus dipenuhi untuk bisa mendaki gunung ini, diantaranya surat keterangan sehat, fotocopy KTP, dan surat keterangan yang akan diberi saat di basecamp.

Kami berangkat dari terminal Ubung, Denpasar menggunakan bis dengan ongkos 80 rupiah sampai stasiun kalibaru dan sudah termasuk ongkos kapal feri. Perjalanan dari Denpasar sampai Kalibaru kurang lebih sekitar 6 jam. Setelah sampai di depan Stasiun Kalibaru kami langsung disambut oleh beberapa tukang ojek yang nampaknya sudah terbiasa dengan kedatangan para pendaki Gunung Raung.

Pesona Kampung Adat Kuta

Melintasi Hamparan Sawah yang Hijau

Melintasi Hamparan Sawah yang Hijau

Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, diwilayah yang berada di ujung timur Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, berdiri suatu Kampung Adat yang memiliki ceritera sejarah yang cukup melegenda, peninggalan dari kerajaan Galuh, salah satu kerajaan Hindu yang ada di Jawa Barat yang berasal dari wilayah Cirebon sebelum Cirebon menjadi kasepuhan dengan memeluk agama Islam yang dibawa oleh para wali pada saat itu.

Berawal dari akan didirikannya pusat kerajaan Galuh di wilayah ini, para prajurit kerajaan mulai membawa seluruh perlengkapan kerajaan dan mulai membuka lahan dari mulanya hutan menjadi bakal komplek kerajaan, namun konon katanya karena ada banjir dari sungai Cijolang yang melanda daerah ini serta beberapa faktor lainnya, maka akhirnya kerajaan Galuh tidak jadi di dirikan disini namun ada beberapa versi ceritera yang berkaitan dengan sejarah Kampung Adat ini dan Kerajaan Galuh.

Pantai Karangtawulan Bukit Teletabies

Pantai Karangtawulan

Pantai Karangtawulan

Kala itu matahari berada setengah merunduk ke arah barat, kalau dikira-kira jarum jam berhenti di angka dua lebih wib. Rasa lelah berjumpa pada jiwa dan raga, wajar saja bulan itu merupakan bulan ramadhan. Mau makan dan minum jelas tidak bisa, solusi pasti adalah mencari suasana tenang. Bulan berkah ini merupakan momen saya untuk mencari responden, maklum saya mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan keharusan bersyarat lulus. Saya bersama teman seperjuangan pencari responden Husni, Rizal, dan Cecep berencana bersinggah di sebuah pantai. Persinggahan ini memang sudah kami jadwalkan dari semalam karena beberapa dari kami belum pernah kesana.

Tersentak mata ini, seperti melihat yang belum pernah dilihat. Di Selatan Kabupaten Tasikmalaya terdapat suatu tempat yang membuat saya dan teman saya berfoto narsis. Tempat tersebut bernama pantai karangtawulan.  Pantai merupakan tempat yang romantis untuk mengobrol senja di sore hari. Bagi kalangan umum rasanya sudah biasa dengan tempat bernama pantai, apalagi orang pesisir. Masing-masing pantai memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penggunaan pariwisatanyapun akan berbeda. Pantai karangtawulan ini cocok sekali untuk mengobrol, nongkrong berbagi cerita bersama yang terdekat, tidak pada berenang ceria karena ombaknya yang besar dan kondisi medan yang tidak memungkinkan.

Kidulan di sepanjang Garut Selatan

janteraPantai mah kidulan, bermain lagi kesini lain kali ya Nak!” begitulah kira-kira ucap seorang Bapak penjaga penginapan tempat mahasiswa Geografi 2012 melaksanakan praktikum sebelum kami pulang menuju Kota Kembang. Disebut kidulan mungkin karena cerita sang Ratu Pantai Selatan yang telah melegenda di sepanjang selatan Pulau Jawa, tetapi aku sendiri belum mengerti maksud perkataan beliau tersebut. Mungkin ada hubungannya dengan syuting film itu? Atau dengan kelima mahasiswa yang masih belum ditemukan itu? Entahlah. Yang pasti itu adalah Pantai Selatan!