Sejarah

Pada 1977, sekelompok mahasiswa Geografi – Fakultas Keguruan Ilmu Sosial – IKIP Bandung (sekarang UPI), Merasakan betapa pentingnya teknik hidup alam bebas (outdoor lifeskill) dalam menunjang studi di jurusan tersebut. Apa sebabnya?
Mereka menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran geografi tak mungkin dicapai dengan duduk manis di dalam kelas, dan menyerap bermacam-macam teori yang tertulis pada buku atau diktat kuliah. Geografi harus dipraktikkan di laboratoriumnya yang agung: alam terbuka dengan segala pesona dan tantanganya.
Ketika itu, praktikum lapangang geografi tidaklah sesering saat ini. Tidak semua dosen bersedia membawa mahasiswanya ke tempat dimana sebuah fenomena geografi berada. Inilah yang membuat mahasiswa – mahasiswa itu berinisiatif untuk mencari dn mempelajari sendiri apa yang ingin mereka ketahui.
Di sisi lain, dalam praktikum lapangan yang terbatas itu mereka seringkali menemui banyak hambatan, anatara lain tak dapat menyesesuaikan diri dengan jenis medan. Pada akhirnya, semua itu jelas menjadi penghambat keberhasilan praktikum lapangan. Dengan demikian, tuntutan kesiapan mental dan pengusaan outdoor lifeskill menjadi sesuatu yang tak lagi bisa ditawar.
Mereka sepakat mendirikan sebuah organisasi yang dianggap mampu menjadi jawaban atas beragam permasalahan yang membentang di hadapannya. Pilihan pun jatuh pada “organisasi pecinta alam”. Akhirnya pada 24 April 1977, JANTERA resmi berdiri sebagai Perhimpunan Pecinta Alam Geografi – FKIS – IKIP Bandung.
Jantera berasal dari bahasa Sansekerta, artinya perputaran, siklus, atau daur. Para pendiri itu kemudian mengartikannya sebagai putaran spiral yang terus membesar, bukan sebuah siklus yang selal kembali ke titik awal. Jantera adalah pergerakan dinamis dalam mencapai suatu kesempurnaan. Sesuai makna filosofis tersebut, JANTERA dituntut untuk selalu dinamis, selalu bergerak, dan melahirkan karya-karya yang berguna bagi masyarakat dan bumi tempat berpijak.
Berbagai kegiatan pun dilakukan seiring dengan upaya membangun hubungan baik dengan beragai kelompok pecinta alam, dan berbagai institusi/instansi. Namun, rupanya jalan tak semulus yang diinginkan, pada 1980 regenerasi gagal dilakukan. JANTERA terpuruk dan membisu (vacum) hingga 1984, sebelum akhirnya dibangkitkan kembali oleh sekelompok mahasiswa geografi, di mana beberapa mahasiswa angkata 1982 dan 1983 menjadi motor penggeraknya. Jantera akhirnya dapat kembali bernafas dan bertahan hidup sampai sekarang.
Setelah JANTERA dibangkitkan dari kevakuman, berbagai kegiatan mulai dilaksanakan, meskipun hanya didominasi oleh perjalanan-perjalanan insidental. Kegiatan mendaki gunung, cukup mendominasi pada periode ini.
JANTERA terus bergerak mencari identitas. Para anggotanya menyadari bahwa kegeografian, petualangan, dan kepecinta-alaman, merupakan dimensi yang saling mendukung dan saling membutuhkan. Merka pun berusaha memadukan semua itu.
Bekal ilmu geografi yang dimiliki, dijadikan modal yang sangat berharga dalam setiap perjalanannya. Dengan demikian, sebuah petualangan sekaligus bisa menjadi suatu media pembelajaran geografi, bukan sekedar sebuah petualangan murni. Setiap palakunya dituntut mampu mengenal dan memahami berbagai fenomena yang dijumpai. Setelah itu, tuntutan selanjutnya adalah kemampuan berbagi cerita, agar masyarakat luas bisa turut menikmati hasil-hasil penjelajahannya. Secara lebih khusus, JANTERA menjadi media yang diharapkan mampu melahirkan guru geografi yang berwawasan luas di dalam kelas dan tangguh di alam bebas!
Lambat laun, kegiatan JANTERA pun semakin beragam, baik yang dikelompokkan ke dalam pendidikan dan latihan, jelajah studi, maupun pengabdian pada masyarakat. Tantangan yang berat dan minimnya fasilitas, tidak menyurutkan tekad anggota JANTERA untuk terus berkarya dalam bidang-bidang yang digelutinya.
Pengembaraan demi pengembaraan terus dilakukan. Berbagai seminar, workshop, pelatihan, latihan gabungan, publikasi penemuan, dan wisata ilmiah, outbond management training (OMT) diselenggarakan dalam berbagai tema dan diikuti beragam peserta. Sebut saja, kelompok pecinta alam, guru-guru geografi, siswa sekolah menengah, atau masyarakat umum. Disamping itu, kegiatan-kegiatan yang bersifat pengabdian juga terus berjalan, terutama yang berkenaan dengan upaya pelestarian lingkungan dan misi-misi kemanusiaan.
Selain mendokumentasikan perjalannya dalam tulisan (laporan), dan karya fotografi, JANTERA berusaha membuat film-film dokumenter sebagai media publikasi bagi bermacam-macam fenomena geografi. Publikasi semacam ini dianggap penting dalam rangka membuka wawasan kegeografian bagi berbagai kalangan.
Adalah kebahagiaan tersendiri, ketika sebuah organisasi pencinta alam yang hanya berada di level jurusan mampu bertahan hidup dan menunjukan eksistensinya selama lebih dari tiga dekade. Meskipun belum ideal dan belum optimal, namun kreatififitas, loyalitas dan dedikasi anggotanya berhasil mempertahankan keberadaan JANTERA ditengah beragam tantangan yang kian hari kian membesar. Masa-masa sulit selalu dihadapi dengan ketabahan dan optimisme yang tinggi untuk bisa keluar dari sebuah lingkaran permasalahan. Mereka tak pernah menyerah pada keadaan. Sebuah catatan dalam buletin JANTERA terbitan 1992 menggambarkan masa-masa sulit itu dengan kiasan yang manis dan menggelitik:

“Kami lelah, tuan! Berjalan dengan sisa kekuatan yang ada di dalam perut saja, itu pun hanya kami dapatkan dari pancuran yang tersendat dan kebun yang tidak subur. Semuanya kami terima dengan keikhlasan. Pancuran dan kebun yang kami singgahi hanya memberikan bekal yang cukup untuk beberapa jam perjalanan. Kami malu untuk duduk berlama-lama di situ. Jalan panjang itu terlalu jauh dan tak mempunyai ujung. Jalan panjang itu tak selesai kami jejaki, dan begitu kami tiba di ujung maka jalan itu akan terus memanjang…”

Dikutip dari buku: Menembus Buana – 30 tahun Perjalanan Jantera, 2007.