Berkunjung ke Gedung Teropong

Bercengkerama di Gedung Teropong Barat

Bercengkerama di Gedung Teropong Barat

Gedung Teropong merupakan gedung yang dibangun untuk kepentingan kegiatan peneropongan bintang. Dengan alasan bahwa aktifitas demikian menjadi bagian penting dalam kurikulum pembelajaran Geografi, maka dengan memanfaatkan riwayat perkawanan Prof. Dr. Soepardjo Adikoesoemo dalam keterangan Tini Soepardjo Adikoesoemo, kemudian meminta bantuan kawannya Prof. Dr. Bambang Hidayat yang selain aktif di kampus ITB sekaligus tengah menjabat direktur pusat peneropongan bintang Boscha di Lembang.

Gayung bersambut, maka gedung tersebutpun dikabulkan. Bentuknya nyaris persegi dengan dimensi yang nyaris kubus. Ruang-ruang bangunan terbagi kedalam peruntukkan yang terutamanya untuk mengakomodasi kepentingan ruang belajar dan perpustakaan; dimana pada bagian lantai atasnya terdapat ruang praktik peneropongan bintangnya. Jadi bisa dibilang suatu prestasi pada zamannya dimana terdapat fasilitas peneropongan bintang selain di Boscha, tentu saja ukuran diameter lensa teropongnya tidak semegah yang dimiliki Boscha; tapi tetap saja prestasi yang spektakuler.

Keterangan ini kami dapatkan ketika Tini Soepardjo Adikoesoemo yang terbiasa jalan-jalan di sore hari keliling komplek kampus dari rumahnya yang juga pada waktu itu di dalam komplek kampus, sedang melewati jalanan didepan Gedung Teropong. Rambut berwarna emasnya memiliki potongan yang pendek sehingga lehernya yang jenjang terlihat indah dan juga bagian telinganya yang dihiasi anting emas cukup besar terlihat mewah. Cara berpakaiannya perpaduan antara kemewahan dan kesederhanaan, dan bukan semua itu yang membuatnya lebih menarik.

Akan tetapi digenggaman kedua tangannya terdapat dua buah trekking pole yang menyulap jalanan seakan salju bagi kami. Maklum saja, pada akhir-akhir waktu itu kami tengah asik berbincang soal gunung-gunung es dan prestasi-prestasi yang dilakukan para pendaki gunung es.

Pada hari itu kami tidak bisa melewatkan waktu begitu saja, pada sebuah kertas HVS kami menorehkan kata “I Love U” dengan spidol marker; untuk kemudian berteriak sembari menempelkan kertas pada kaca jendela. Dan kami berhasil mencuri perhatiannya, dengan bahasa tubuh gaya Eropa yang ekspresif tapi penuh rasa bangga dan percaya diri ketika mendapatkan pujian; bahu dan tangannya cukup untuk menerka ucapannya yang tidak terdengan ‘For Me?!’.

Kami bilang iya, dan karena malu kami berhamburan keluar untuk menyapa dan menyalaminya secara resmi dengan bahasa Inggris yang dipaksa-paksakan.

Cukup mengagetkan, ‘pendaki’ tua yang cantik itu menimpali kami dengan bahasa Indonesia yang bagus meskipun dialeknya Baratnya tak pernah bisa hilang; seraya tiba-tiba menggunakan kesempatan itu untuk bercerita mengenai suaminya dan Gedung Teropong, dialah Soepardjo Adikoesoemo sang pendiri jurusan Geografi. Banyak kisah dan peristiwa-peristiwa menarik diseputar kehidupan kami di Gedung Teropong. Barangkali, bukan sekedar peristiwa-peristiwa itu yang sedemikian menarik dan pentingnya; melainkan citarasa kami sendiri yang diliputi perasaan menarik dan takjub untuk bisa memaknai peristiwa-peristiwa diluar diri kami itu sendiri.

Bisa dikatakan, Gedung Teropong memiliki aura yang menyulap betapapun kesulitan dan kepahitan tidak bisa merubah hati kami menjadi sulit. Disinilah prinsip-prinsip mengenai solidaritas, loyalitas, imajinasi, dan impian-impian menemukan bentuknya yang subur untuk bisa terus bertumbuh-kembang dalam balutan diskusi, perkawanan, dan saling-menyokong antara satu dengan lainnya.

Identitas sebagai Jantera dan Geografi melebur dalam suatu kesatuan, dan solidaritas in group dan rasa kebanggaan sebagai sebuah keluarga bukan untuk mengantarkan kami pada sikap arogan, melainkan kunci untuk mengantarkan kehidupan dan hubungan-hubungan kami pada lingkaran yang lebih besar; pergaulan ditingkat Fakultas dan Universitas.

Disela-sela jam kuliah, bukan sekedar penghuni Gedung Teropong yang memadati gedung dan halamannya untuk berkumpul, berbincang dan ngopi-ngopi ataupun sekedar bernyanyi-nyanyi dan bermain gitar; tapi cukup nyaman untuk menarik hampir semua elemen mahasiswa non ‘kuncen’ baik anggota Jantera maupun anggota HMJP Geografi (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi). Dan bukan sekedar mereka, demikian juga kawan-kawan dari jurusan dan fakultas lainnya melakukan kegiatan yang sama; terutama pada duta-duta pergaulannya masing-masing, dan tentu saja dominasinya adalah kawan-kawan dari berbagai latar organisasi kepecinta-alaman lainnya.

Senior-senior yang tidak bisa dibayangkan dalam perkawanan yang reguler seringkali berdatangan untuk melepas penat, transit atau suatu kegiatan yang bersifat lintas angkatan dan generasi yang bahkan sesungguhnya terpaut angka dan umur yang sangat jauh.

Banyak dosen juga yang tak luput dari kegiatan cari angin di sekitar gedung ini, karena tentu saja selain gedung itu menjadi milik kami; mereka juga adalah para penghuni yang pernah terikat dengan sejarah kehidupan dan perkawanannya di genung ini. Sehingga diluar hubungan formal-akademik bisa dibilang, hubungan antara dosen dan mahasiswa Geografi cukup cair dan akrab.

Tiga atau empat hari berturut-turut bahkan saya sendiri memiliki pengalaman dibangunkan oleh Pak Gurniwan Kamil Pasya untuk memingatkan pergi ke kelas untuk kuliah, atau diburu karena membolos banyak dari kewajiban menjalankan praktik mengajar di sekolah (PPL); biasanya saya secepat kilat langsung lari dan bersembunyi hingga situasi menjadi aman kembali. Atau karena suatu kenakalan, saya dan Bowo Sutrisno dihukum ‘sasapu’ oleh Pak Mamat Ruhimat. Oka Sumarlin yang sering dikritik Bu Epon Ninggrum karena hobi memakai celana pendek, selain Oka Sumarlin; Beni S Ambarjaya juga memiliki hobi yang sama dengan celana pendek merah andalannya.

Selain hobi tidak mandi berhari-hari, penghuni Gedung Teropong sebagaimana koloni-koloni peradaban lainnya di setiap belahan jurusan dan fakultas di kampus adalah mandi dini hari menggunakan fasilitas kamar mandi kampus.

Jika gedung fakultas sendiri, Garnadi Prawirosudirdjo sedang kering-kerontang; biasanya tempat paforit kami kamar kandi di gedung Pentagon milik anak bahasa sekalian bertegur sapa denga kawan-kawan penghuni dari Mapad Purpala.

Dalam suatu keterangan Kang Bach, selepas masa-masa digunakan sebagai gedung teropong; gedung kubus beratap seng tebal dan kuat dengan konstruksi datar yang bisa digeser untuk melihat langit lepas ini sempat juga digunakan sebagai kantor keamanan. Dengan alasan kegiatan hingga sore atau kemalaman, setahap demi setahap mereka seringkali izin untuk ikut menginap hingga akhirnya pada suatu kondisi tertentu berhasil diekspansi sebagai pusat kegiatan mahasiswa.

Sejak generasi Kang Bachtiar ini barangkali gedung Teropong Barat mulai digunakan sebagai markas himpunan dan Jantera. Dan kemudian pada suatu waktu yang lebih kemudian, gedung ini dibelah dua menjadi bagian Barat dan Timur. Bagian Timur digunakan oleh kawan-kawan kami dari mahasiswa Civic Hukum/PPKN dan bagian Barat digunakan oleh mahasiswa Geografi. Sejak masa-masa inilah, kami mulai biasa untuk memaknai wilayah kami sebagai Gedung Teropong Barat dan bagian tetangga kami sebagai Gedung Teropong Timur.

Pada masa saya masuk, Ketua Mapach – perhimpunan pecinta alam dari Civic/Hukum adalah Agus ‘Babad’ angkatan 2000; kami biasa menyebutnya mang Babad. Kawan dekat Mang Babad ini ada Haris orang GMNI dan ‘Jarwo’ yang merupakan anggota Mahacita yang mampir diklat saja karena tidak aktif; kawan seangkatan denga Oka, ‘Ciwong’, ‘Urip Silet’, ‘Ucing’, ‘DEP’ dan ‘DCM’ dari HMJP/Jantera. Generasi selanjutnya antara lain terdapat ‘Bembi’, Wahyu ‘Odeng’ dari Mapach/Civic yang sebaya dengan generasi Teropong Barat, ‘Uchan’, Bowo, Habib, dan ‘Rozak’.

Saya sendiri untuk pertamakalinya resmi memiliki pacar dari pusat peradaban gedung Teropong Timur. Perkawanan dan pergaulan setahap demi setahap terus membesar, demikian juga selidaritas in group yang komitmenya juga dalam proporsi tertentu semakin membesar meneratasi kepentingan internal sendiri; utamanya kegiatan-kegiatan yang terhubung dengan federasi perhimpunan pecinta alam di tingkat kampus dan sesekali dengan lingkungan kota Bandung.

Bukan berarti gaya hidup dan cara berpikir generasi kami sempurna dan tanpa koreksi, tapi suatu masa dimana dimana laju pergerakan impian, kenyataan, cara berpikir, gerak-tubuh, dan hubungan-hubungan kemanusian dapat dijalani serasa seimbang, indah, dan memuaskan. Karena itu, pertukaran informasi dan cerita-cerita antar angkatan dan generasi juga ada baiknya memang untuk bisa dipelajari. Dan juga ketika menuliskan ini, kenangan-kenangan baik dan kejayaan yang dirasa memuaskan tak peduli dengan skup dan komparasi; mulai kembali ter-recall.

Mungkin lain kali ceritanya disambung, dengan bahasa dan kenangan yang lebih mengalir dengan cair dan detail. Salam, GTK*—Gelar Taufiq Kusumawardhana

*penulis adalah Anggota Jantera 23, Meigeya Napak Kelana.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>