Pesona Gunung Koromong

Puncak Gunung KoromongDiantara banyaknya gunung di Bandung, ada satu gunung yang cukup menarik yaitu Gunung Koromong. Gunung yang memiliki ketinggian 996 mdpl ini tak kalah menariknya dengan gunung-gunung Bandung lainnya.

Gunung Koromong atau penduduk sekitar menyebut dengan sebutan Korombong ini terletak di Bandung Selatan tepatnya perbatasan antara desa Wargaluyu dengan kelurahan Baleendah – Kabupaten Bandung.

Untuk jalur pendakian sendiri bisa melewati jalur kampung Ciruum, Desa Wargaluyu Kecamatan Arjasari kabupaten Bandung.

Adapun akses kendaraan menuju lokasi sangat mudah. Dari Baandung (tegallega) cukup naik angkot Banjaran-Tegallega sampai ke Patal Banjaran dengan tarif 7000 rupiah. Kemudian dari Patal Banjaran bisa naik ojek sampai Kampung Ciruum, tepatnya di kantor Desa Wargaluyu. Dengan tarif 7000 rupiah. Dari kantor desa.

Gunung KoromongUntuk memulai pendakian jalan yang dilalui cukup mengikuti jalan penduduk sampai batas akhir jalan penduduk . Kemudian kita akan menemukan jalan setapak dan mulai menanjak. Jalur yang masih asri, hijau dan rimbun masih terlihat jelas.

Untuk mencapai puncak Koromong, terlebih dahulu kita akan melewati puncak wangun . Ciri khas dari puncak ini adalah terdapat pohon bambu dan 2 (dua) makam. Yang menurut penduduk sekitar itu merupakan makan dari mbah Wangun. Waktu tempuh dari desa sampai ke puncak wangun kurang lebih sekira 40 menit.Dan jarak tempuh untuk mencapai puncak Koromong dari puncak Wangun sekira 30 menit.

Jalur menuju puncak Koromong relatif mudah. Ciri khas dari gunung hutan yang masih rimbun dengan tumbuhan dan semak belukar akan menemati kita didalam perjalanan. Namun jika kondisi cuaca hujan, jarak timpuh bisa mencapai 1 1/2 sampai 2 jam perjalanan.

Setelah sampai di Puncak Koromong, akan bisa melihat pemandangan yang tidak kalah indahnya dengan Gunung yang lain. Ketika melihat ke Utara kita akan disuguhkan dengan gagahnya Gunung Tangkuban Parahu. Dan ketika menengok ke arah selatan kita akan takjub dengan kegagahan Gunung Malabar.

Penulis: Habib A. Izzudin (sahabat Jantera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *