Sanghyang Kenit: Perjalanan Menuju Gerbang Gelap Abadi

Anggota Muda Jantera ke 40

Oleh: Diki Lukman Nulhakim Sidik

Perjalanan ini adalah satu dari rangkaian kegiatan pra-diklanjut Anggota Muda Jantera-40. Pra-diklanjut mata latih Caving dan Speleologi bertujuan untuk mengenalkan lingkungan gua, ornamen-ornamen didalamnya dan kegiatan yang dilakukan selama penelusuran gua. Kegiatan ini dilaksanakan Jum’at, 14 Januari 2022 di Gua Sanghyang Kenit, Rajamandala Kulon.

Kami beranjak dari sekretariat Jantera pukul 08.00 WIB dan sampai dalam waktu sekitar dua jam dengan melintasi jalanan Kota Cimahi. Guna meregangkan otot yang tegang selama perjalanan kami beristirahat di shelter Sanghyang Kenit. Disela waktu istirahat, instruktur Akbar dan instruktur Desi memaparkan pengetahuan dasar caving dan speleology dengan bahasan diantaranya mengenai karst, ornamen gua, alat yang digunakan dalam caving, dan lain sebagainya. Anggota muda yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah sepuluh orang. Kami dibagi menjadi dua tim dengan masing-masing tim berjumlah sepuluh orang. Saya mendapat giliran pertama bersama keempat saudara saya yang lain yaitu Anggy, Dinda, Wulan dan Miswa. Kami menelusuri gua dengan alat kelengkapan khas penelusur gua yaitu cover all, sepatu boots, dan headlamp sebagai sumber penerangan. Saat berada di mulut gua kami dibekali penjelasan terkait proses pembentukan gua serta pembagian zona gua.

Tak hanya penelusur gua, seorang penjelajah wajib berprinsip dan berpegang teguh pada tiga hal, yaitu jangan mengambil sesuatu kecuali gambar, jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak, dan jangan membunuh sesuatu kecuali waktu. Saya menemukan beberapa jenis ornamen gua seperti stalaktit, stalagmit, tiangan, dan gourdam. Selain itu beberapa makhluk hidup penghuni gua seperti kelelawar,kecoa dan ikan tak luput dari pandangan. Lingkungan gua yang kami telusuri termasuk kaya akan biodiversitas, hal ini disebabkan masih berlangsungnya proses pembentukan gua. Tak hanya itu, aliran sungai setinggi paha orang dewasa masih mengalir dari ujung ke ujung gua. Gelap, tak ada sedikitpun cahaya di kegelapan zona abadi. Hanya ada senter di kepala untuk memastikan kami tak salah langkah. Tak lama instruktur meminta kami untuk mematikan satu-satunya sumber penerangan dan merasakan sensasi dipeluk kegelapan. Gelap yang sebenar-benarnya, membuka dan menutup mata pun tidak ada bedanya. Bahkan gelap saat mati lampu pun tidak sama dengan perasaan yang muncul saat itu. Hanya terdengar gemericik air yang sesekali menetes membawa nuansa tenang dan sunyi. Kami mengabadikan apa-apa yang kami temui dalam gua melalui sebuah potret sebelum akhirnya kami keluar dari gua. Kemudian saudara kami yang lain mendapat gilirannya untuk menjamah kegelapan. Tak lama terdengar kabar getaran bumi mengguncang Provinsi Banten, beberapa daerah disekitar turut merasakannya. Kami tak merasakan apapun saat itu, namun hal ini justru menjadi perhatian bagi kami bahwa setiap perjalanan memiliki resiko yang membersamai. Sehingga kesiap siagaan dan mawas diri adalah hal penting untuk dimiliki setiap penjelajah.

Tinggalkan Komentar