Jantera dan Perannya dalam Upaya Pelestarian Alam

Jantera dan Perannya dalam Upaya Pelestarian AlamJantera dan Perannya dalam Upaya Pelestarian Alam

Oleh : Anggy Septiyani (Siswa Diklatsar XL)

“Negara Maritim”, “Negara Seribu Pulau”, “Negara Agraris”, “Tanah Surga”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Paru-paru Dunia”, “Negara Megabiodiversitas”, “Heaven on Earth”, adalah beberapa dari sekian banyaknya julukan yang menggambarkan kekayaan dan keindahan alam Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, baik sumberdaya alam hayati maupun non hayati. Tersebar dari Sabang sampai Merauke menjadi hal yang istimewa serta ciri khas untuk Indonesia dan tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat menjaga kelestarian alam tersebut.

Sebagai wujud upaya menjaga kelestarian alam Indonesia, mulai muncul kelompok-kelompok yang mendedikasikan diri bergiat di alam bebas atau alam terbuka seperti gunung, hutan, sungai, gua, pantai, laut bahkan di atas udara dan lainnya. Berbekal motivasi yang beragam mereka lebih dikenal dengan istilah pecinta alam. Kelompok pecinta alam memiliki kegiatan yang sama namun kerap kali memilih nama yang berbeda dengan pecinta alam lainnya, hal tersebut bisa disebabkan karena adanya perbedaan orientasi dan dijadikan sebagai ciri khas untuk kelompok pecinta alam tertentu.

Dalam perkembangannya, pecinta alam di Indonesia dikelompokkan menjadi Mapala –mahasiswa pecinta alam, yaitu kelompok pecinta alam yang keanggotaannya terdiri atas mahasiswa. Kemudian terdapat kelompok nonmapala yang cakupan anggotanya lebih luas karena melibatkan mahasiswa dan juga masyarakat umum. Serta kelompok yang disebut komunitas, di mana komunitas ini merupakan kelompok tertentu yang berorientasi di alam.

Organisasi pecinta alam di Indonesia diawali dengan pembentukan Mapala UI pada tahun 1975 di Jakarta oleh tokoh utamanya yaitu So Hok Gie dan Norman Edwin. Kemudian Wanadri (kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung) dibentuk tahun 1975 di Bandung, dan organisasi lainnya yang lebih memfokuskan pada kegiatan tertentu, seperti panjat tebing, penelusuran sungai dan lain-lain.

Pada tahun 1977, dibentuk kelompok Mahasiswa Pecinta Alam di salah satu jurusan kampus UPI/IKIP Bandung yang dipelopori oleh Titi Bachtiar. Organisasi tersebut dikenal dengan nama Jantera yang secara etimologi berarti siklus, daur, dan perputaran yang berbentuk spiral. Periode kepengurusan Jantera kemudian dilanjutkan oleh angkatan Tapak Sangkuriang dan angkatan Bukit Teras pada tahun 1978 dan 1979. Kemudian Jantera sempat mengalami periode vakum pada tahun 1980-1983 karena tidak adanya penerus yang melanjutkan estafet  keorganisasian. Meski sempat mengalami periode vakum selama kurang lebih 3 tahun, Jantera kemudian mengalami periode kebangkitan mulai dari tahun 1984-sekarang. Dimana periode tersebut dipelopori oleh Ogun, Jaja Purnama, Yata Sutarya (Alm) dan mahasiswa Geografi angkatan 82 lainnya.

Seiring berjalannya waktu, eksistensi Jantera mulai mengalami perkembangan yang pesat. Sebagai salah satu ciri atau identitas, Jantera membuat logo yang biasa digunakan pada bendera Jantera atau lainnya. Bendera Jantera memiliki warna orange yang dipilih karena warnanya yang menyala sehingga memudahkan dalam mengenali sesama anggota ketika melalukan aktivitas di alam bebas. Logo Jantera dilambangkan gunung dalam lingkaran tertembus anak panah diagonal dalam kerangka segilima yang memiliki makna bahwa Jantera siap menembus rahasia alam dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila. Kemudian insan Jantera pun diharapkan senantiasa terus bergerak menggali rahasia alam demi kemaslahatan dirinya dan orang lain.

Dalam perkembangannya, orientasi kegiatan di Jantera memiliki tiga masa, diantaranya masa awal, masa kebangkitan dan masa kemanfaatan. Masa awal merupakan masa pemenuhan kebutuhan kemampuan mental dan fisik kuliah di lapangan khususnya sebagai mahasiswa Geografi. Kemudian masa kebangkitan lebih berorientasi pada prestasi yang dicapai melalui petualangan yang dilakukan. Dan terakhir yaitu masa kemanfaatan yang ditandai dengan mulai dilakukannya penggalian lebih lanjut mengenai apa yang dijelajahi dan diterbitkannya karya-karya berupa pengaplikasian ilmu atau PKM agar kebermanfaatannya meluas. Dalam masa kemanfaatan ini, pergerakan organisasi Jantera mulai terarah.

Selama periode kepengurusan Jantera dari tahun 1977 sampai sekarang, banyak capaian yang telah Jantera raih. Pada masa awal, Titi Bachtiar selaku pelopor Jantera mulai merintis artikel-artikel di harian lokal di samping melakukan perjalanan dan petualangan. Kemudian pada masa kebangkitan awal Jantera membangun organisasi formal dan kelembagaan diklat. Selain itu dalam masa ini Jantera merintis perjalanan yang berkonsep studi. Adapun capaian yang diraih pada masa pelanjut di dekade 2000 awal yaitu perjalanan mulai dikembangkan dengan konsep forum ekspos. Kemudian karya tulis dan artikel mulai dipublish di beberapa media. Jantera juga mulai menulis buku pada masa pelanjut ini.

Jantera terkenal sebagai organisasi pecinta alam yang produktif di bidang jurnalistik. Dibuktikan dengan banyaknya karya yang dihasilkan oleh Jantera. Karya kepenulisan yang sangat terkenal diantaranya buku yang berjudul “Menembus Buana 30 Tahun Jantera Mengembara”, “Bandung di Lingkung Gunung” dan “Meniti Cincin Api”. Karya-karya yang dibuat oleh Jantera merupakan bukti eksistensi Jantera sebagai organisasi pecinta alam, kemudian merupakan rekam jejak dari perjalanan yang dilakukan oleh Jantera khususnya sebagai seorang geograf dan sebagi kesempatan di masa muda untuk dapat lebih memperbanyak karya. Selain karya di bidang kepenulisan, terdapat peluang karya lain yang dapat dibuat oleh Jantera, diantaranya yaitu Peta. Mahasiswa geografi tentu sangat erat dengan peta. Maka dari itu Jantera sangat berpeluang berkarya dengan membuat peta-peta sesuai dengan ciri khas geografi. Peta yang dihasilkan bisa berupa peta gua, peta jalur pendakian, peta rawan bencana dan peta lainnya. Peluang karya lain yang dapat dilakukan Jantera adalah mengikuti berbagai perlombaan. Jantera yang merupakan Pecinta Alam berbasis keilmuan memiliki peluang yang sangat besar untuk mengikuti berbagai perlombaan seperti PKM, LKTIN dan lainnya.

Sebagai organisasi pecinta alam, tentunya Jantera memiliki berbagai kegiatan yang erat kaitannya dengan pelestarian alam. Salah satu kegiatan yang dilakukan Jantera dan tentunya juga dilakukan oleh organisasi pecinta alam lainnya dalam menjaga dan melestarikan lingkungan alam adalah Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana. Kecerdasan manusia dari waktu ke waktu semakin meningkat sehingga memunculkan banyak inovasi dalam berbagai bidang teknologi yang dapat memudahkan kehidupan manusia. Namun perkembangan teknologi yang semakin pesat ternyata juga menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan kerap kali terjadi bencana-bencana yang kian meluas akibat dari adanya kerusakan lingkungan tersebut. Hal ini mendorong diperlukan adanya upaya dari berbagai elemen khususnya pecinta alam untuk dapat mencegah dan meminimalisir dampak dari adanya bencana dan kerusakan lingkungan, salah satunya melalui Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Mitigasi bencana merupakan upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak yang diakibatkan oleh bencana terhadap masyarakat di kawasan rawan bencana, baik itu berupa bencana alam, bencana sosial ataupun gabungan dari keduanya. Sedangkan pengertian konservasi lingkungan adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam. Pelestarian lingkungan dan alam perlu dilakukan karena manusia sendiri merupakan bagian dari lingkungan hidup itu yang mengambil manfaat dan berinteraksi langsung dengan spesies dan sumberdaya yang ada di alam.

Adapun kaitan mitigasi bencana dan konservasi lingkungan dapat dilihat dari aspek konservasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan saling berkolerasi dengan upaya mitigasi bencana. Pengelolaan dan pelestarian alam yang dilakukan dengan bijak akan meminimalisir dan menekan dampak dari kerusakan akibat bencana, sehingga tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi manusia dan alam itu sendiri.

Peran pecinta alam dalam konservasi lingkungan dan mitigasi bencana tentu sangat penting dan selaras dengan definisi dan kode etik pecinta alam. Pecinta alam dapat menjadi pionir dalam segi konservasi dan mitigasi bencana karena pecinta alam memiliki beberapa hal yang mendukung upaya-upaya tersebut, diantaranya yaitu latar belakang yang multidisiplin, persaudaraan yang erat antar sesama pecinta alam, jiwa militansi, rasa cinta tanah air, memiliki kemampuan jelajah dan memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih mengenai bentang alam dan sejenisnya. Dengan berbagai kemampuan dan sumberdaya yang dimiliki, organisasi pecinta alam dapat melakukan riset mengenai lingkungan dan upaya mitigasi bencana, melakukan pemberdayaan masyarakat lokal dalam menjaga dan melestarikan alam, berperan aktif dalam upaya konservasi lingkungan dan mitigasi bencana baik di lapangan, manajerial maupun ide-ide. Pecinta alam juga dapat melakukan kampanya dan edukasi ke masyarakat terkait dengan konservasi dan mitigasi bencana.

Konservasi lingkungan dan mitigasi bencana merupakan hal yang perlu dilakukan sejak dini. Jantera sebagai salah satu penggiat alam tentunya memiliki peran dalam melakukan upaya-upaya tersebut. Hal itu didukung oleh sumberdaya yang dimiliki serta pengetahuan dan pengalaman yang telah didapat oleh anggota Jantera. Dengan begitu, diharapkan Jantera dapat menjadi pionir yang membawa perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik khususnya dalam segi konservasi dan mitigasi bencana.

Tinggalkan Komentar