Jantera Dulu dan Kini

Jantera Dulu dan Kini

Oleh : Miswa Kamila (Siswa Diklatsar XL)

Apa itu pecinta alam? Pecinta alam lebih ditujukan kepada seseorang atau kelompok yang bergiat di alam bebas atau alam terbuka seperti gunung, hutan, sungai, laut, bahkan diatas udara dll. Definisi tersebut dituturkan oleh Pak Asep dosen Pendidikan Geografi dan anggota Jantera, dalam pematerian di kegiatan DIKLATSAR Jantera 40 mengenai “Kejanteraan” pada hari Jum’at (13/08/2021), Apa Jantera merupakan organisasi pecinta alam? Tentu saja, tapi Jantera memiliki hal spesial dibandingkan dengan organisasi pecinta alam lainnya. Jantera tidak hanya memiliki tujuan untuk menaklukan setiap gunung, tebing ataupun gua yang ada, lebih dari itu Jantera selalu mengkaji tempat-tempat yang didatangi untuk selanjutnya didokumentasikan dalam bentuk tulisan seperti artikel bahkan buku. Menjadi seorang pecinta alam sepertinya tidak harus bisa menaklukan rimba terlebih dahulu, dengan menulis buku dan mempengaruhi orang-orang mengenai alam bisa disebut pecinta alam juga. Sebagai pemateri, Pak Asep menceritakan bagaimana latar belakang terbentuknya Jantera dimulai dari periode kelahiran yaitu pada tahun 1977, periode vakum pada tahun 1980-1983, sampai periode kebangkitan pada tahun 1984-hingga sekarang. Beliau juga menjelaskan filosofi lambang Jantera, secara etimologi “Jantera” memiliki arti siklus/daur dan makna filosofi lambang yang dimiliki oleh Jantera yaitu “Jantera siap menembus rahasia alam berbasis nilai-nilai Pancasila”.

Keesokan harinya Sabtu (14/08/2021) pematerian diisi oleh Pak Lili Somantri dosen  Pendidikan Geografi dan anggota Jantera dan Teh Lutvia Resta yang merupakan salah satu anggota Jantera juga dengan tema “Kepenulisan”. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Jantera bukan organisasi pecinta alam biasa, seorang anggota Jantera setidaknya harus memiliki karya dan belajar untuk membuat karya. Mengapa harus berkarya? Karena akan terasa sia-sia jika sudah melakukan perjalanan dan petualangan tapi tidak diabadikan, baik melalui tulisan ataupun media lainnya. Beliau juga berpesan selagi muda perbanyaklah karya karena memiliki banyak karya bisa memiliki banyak manfaat, salah satunya untuk mengasah skill. Selanjutnya Teh Lutvia Resta menjelaskan jenis tulisan yang diantaranya ada tulisan eksploratif, eksplanatif dan deskriptif. “Seorang penulis profesional merupakan penulis amatir yang tidak berhenti” itulah yang dikatakan oleh Richard Bach, jadi walaupun kita masih seorang amatir dan belum handal dalam menulis selagi kita berusaha dan terus berlatih tidak akan menutup kemungkinan untuk kita menjadi penulis profesional. Jantera sendiri sudah menerbitkan buku diantaranya berjudul Meniti Cincin Api, Menembus Buana 30 Tahun Jantera Mengembara, dan Bandung Dilingkung Gunung.

Hari ketiga, Minggu (15/08/2021) pematerian disampaikan oleh Kang Indra Guna Noviantama atau biasa dipanggil Kang Indra Kroto, merupakan anggota Perhimpunan Pendaki Gunung dan Pecinta Alam IMT (Jana Buana), dalam sesi ini beliau menyampaikan materi mengenai “Peran Organisasi Pecinta Alam dalam Mitigasi Bencana dan Konservasi Lingkungan”. Yang dimaksud dengan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menggangu kehidupan dan penghidupan masyarakat. Lalu apa itu konservasi lingkungan? Konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam. Sebagai seorang pencinta alam sudah seharusnya kita menjaga dan melindungi alam, diharapkan dengan kegiatan yang kita lakukan selain menjaga alam juga menjaga masyarakat yang berada di daerah rawan bencana dengan memberikan pengetahuan mengenai mitigasi bencana. Adapun aspek yang harus diperhatikan dalam konservasi lingkungan dan mitigasi bencana diantaranya :

  1. Keilmuan
  2. Tata wayah (waktu), tata wilayah (ruang), dan tata lampah (perilaku)
  3. Peran serta masyarakat
  4. Resiko dan manfaat

            Pematerian yang sudah diikuti merupakan awal dalam kegiatan DIKLATSAR Jantera 40, masih banyak yang harus dilakukan dan dilalui didepan sana. Semangat!

Satu pemikiran pada “Jantera Dulu dan Kini

Tinggalkan Komentar