Oleh : Abuzar Al-ghaniy (J.374.37.AAB)

Telaga Dewi

Beberapa hari yang lalu aku merencanakan pendakian ke salah satu puncak Tri Arga (tiga gunung yang berdampingan di Sumatera Barat) bersama seorang saudara yang rumahnya berkisaran 10 meter jarak relatif dari rumahku sebut saja Namanya Zalfi. Seorang mantan ketua umum Sispala di MAN 1 Bukittinggi, dia sudah melakukan beberapa pendakian denganku sebelumnya.

Carrier yang sudah kami isikan beberapa alat pendakian dan bahan makanan sehari sebelum jadwal keberangkatan pagi ini kami topangkan ke punggung seraya memulai perjalanan pendakian kali ini. Berlandaskan do’a kami mengikuti aliran jalan raya menuju daerah tujuan.

Rumahku berada di wilayah administrasi Kabupaten Agam, sedangkan gunung yang akan kami singgahi juga berada pada kabupaten yang sama, hanya beda kecamatan saja dengan jalur pendakian. Berada pada koordinat 0°23’24” LU dan 100°19’51” BT dengan titik elevasi tertinggi 2,877mdpl, Gunung Singgalang berada pada dua Kecamatan yaitu Kecamatan IV Koto dan Kecamatan Sungai Puar, sedangkan di Kabupaten Tanah Datar hanya satu kecamatan saja yaitu Kecamatan Sapuluah Koto. Dibagian timurnya berdampingan dengan gunung api paling aktif di Sumatera Barat yaitu Gunung Marapi.

Memerlukan waktu ± 1 jam akhirnya kami sampai di basecamp pendakian. Setelah mengurus kelengkapan dan birokrasi prosedur pendakian akhirnya kami sudah terdaftar secara resmi sebagai tamu di gunung ini. Selayaknya sebagai tamu sikap dan perbuatan harus dijaga, tamu yang baik adalah tamu yang menghargai kondisi tempat dia singgah. Pendakian kali ini melalui jalur yang berada di Kabupaten Tanah Datar tepatnya di Nagari (Desa) Pandai Sikek Kecamatan Sapuluah Koto. Sekedar Informasi Nagari Pandai Sikek ini merupakan tempat penghasil songket utama di Sumatera Barat. Songket ini sudah menjelajah secara mancanegara, baik Asia, Eropa maupun Amerika. Maka tak heran jikalau kesini banyak sekali rumah tenunan songket tradisional di sepanjang jalan. 

Sesaat menghela sedikit kelelahan dalam perjalanan dari rumah menuju basecamp pendakian, kami menyantap makanan yang kami beli disaat perjalanan tadi. “Bika” merupakan makanan tradisional Minangkabau yang terbuat dari tepung beras, parutan kelapa, dan bahan lainnya yang bersatu dalam bungkusan kelapa.  Aroma khas bika berasal dari kayu manis yang digunakan untuk memanggang bika, kayu bakar digunakan untuk menutup guci tanah liat dibagian atas dan bara api membakar guci dibagian bawah.

Setelah menunaikan kewajiban kami kepada Allah SWT., tepatnya pukul 13. 00 WIB kami memulai perjalanan menapaki tanah dan kerikil Gunung Singgalang. Jalur yang kami lalui menyerupai goa memanjang yang terbuat dari rimbunnya tebu hutan dengan sedikit sinar matahari menyinari langkah kami, Jalur Tapir begitu pendaki lain menyebutnya. Perlahan cahaya redup mulai terang langkah demi langkah terus bergulir, pupil mata mulai mengecil dan akhirnya kami sampai juga di ujung lorong jalur tapir. Setelah mengambil beberapa dokumentasi, suara tegukan Zalfi mengakhiri waktu rehat kami siang ini, “lanjut ciak” nada menyemangati Zalfi dengan lekukan garis bibir dengan senyuman singkat memulai kembali langkah kaki kami bergemuruh di lereng Singgalang. Oh iya “Ciak” itu dalam Bahasa Minang memiliki arti kecil, karena Zalfi merupakan anak paling kecil orang – orang di kampung kami sering memanggilnya “Ciak”.

Sepanjang perjalanan beberapa kali kami bertemu dengan pendaki lokal dari kecamatan lain yang bergerombolan dan kami dapati informasi ternyata mendaki Singgalang merupakan rutinitas nenek moyang secara turun temurun. Orang Desa Balingka Kabupaten Agam memang tinggal dan bermukim di lereng Gunung Singgalang. Mereka mencintai Singgalang seperti rumah mereka sendiri, dengan membawa keluarga mereka mendaki untuk melihat keadaan Singgalang.

Kira – kira dua jam perjalanan dari basecamp pendakian kami sampai di Cadas, para pendaki menyebut cadas karena disini sedikit sekali pepohonan yang hidup, hanya pakis hutan,centigi, dan edelweis. Perjalanan kami lanjutkan menuju Telaga Dewi, kaki menapak terjalnya cadas tapi mata kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indah, bagaimana tidak dibelakang kami tegak menjulang Gunung Marapi dan Gunung Tandikek. Beberapa menit berjalan akhirnya kami sampai di pintu Hutan Lumut Singgalang, kawasan yang mempesona dengan kondisi lembab, vegetasi yang rapat dan sedikit sekali cahaya matahari yang masuk.

Berdiri diatas Cantigi

Berhasil melewati pintu Hutan Lumut Singgalang kami beristirahat di Telaga Dewi, konon katanya telaga ini dihuni seorang dewi cantik dan bersih sehingga ia akan menjaga rumahnya dari sampah sekecil apapun dan memang benar Danau Dewi ini sangatlah bersih bahkan secuil pun daun cantigi tidak kutemukan mengotori danau. Hari sudah sore, Zalfi mendirikan tenda di arah timur agar kami bisa menyaksikan matahari terbenam dan aku mulai mempersiapkan masakan untuk makan malam.

Terlelap di gumat malam, kamipun bangun untuk melaksanakan kewajiban kami sholat subuh diketinggian yang dingin. Zalfi memilih berdiam ditenda dan menyiapkan sarapan, sedang aku perlahan melipir menelusuri bibir telaga, kadang merunduk dibawah centigi gunung, kadang berkontak fisik dengan hamparan lumut Singgalang. Matahari perlahan naik dan menyinari wajah lusuh kami, melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Singgalang, estimasi ±20 menit. Setelah menempuh hutan lumut dan sedikit menanjak kami tiba di puncak Gunung Singgalang 2,877 mdpl. Setelah melakukakan dokumentasi kami langsung kembali ke tenda dan melakukan persiapan sebelum turun gunung. Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak, dilarang mengambil apapun kecuali foto/gambar, dilarang membunuh apapun kecuali waktu. Berpedoman etika itu kami melakukan beberapa clear area agar berjalan sesuai insan pencinta alam. Berselang waktu ±90 menit kami akhirnya sampai di basecamp pendakian, setelah mengurus berbagai hal prosedur kepulangan kami melanjutkan perjalan pulang menuju rumah. Tujuan mendaki gunung bukanlah puncak, melainkan pulang ke rumah dengan selamat.


jantera

Perhimpunan Pecinta Alam Pendidikan Geografi UPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.