Oleh : Indri Megantara

Siluet caver Jantera difoto dari dalam gua Sanghyang Poek

Sanghyang Poek, siapa yang baru mendengar nama tempat ini? Salah satu dari banyaknya objek yang namanya dikaitkan dengan dewa atau ‘Sanghyang’ yang berada di Kabupaten Bandung Barat dan menjadi tempat pangulinan barudak Jantera. Masih dalam rangka diasuh, tujuan jalan-jalan Jan kali ini adalah Sanghyang Poek dengan misi belajar cavemaping. Lokasinya tidak jauh dari Sanghyang Kenit, perjalanan menuju Sanghyang Poek kami tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Hanya saja medan yang kami tempuh kali ini tidak semulus menuju Sanghyang Kenit, melewati perkebunan warga dengan tanjakan berpasir mengharuskan sebagian dari kami berjalan kaki menuju gua Sanghyang Poek. Mulut gua ini terletak diantara kebun warga dan tertutup rimbunnya rerumputan. Selain caving, dinding gua yang memiliki banyak cacat bisa dijadikan arena memanjat untuk menguji kekuatan otot-otot tangan.

Perempuan jadi caver? Siapa takut!

Sebelum memetakan ‘gua sungguhan’ untuk pendidikan lanjutan, kami melakukan simulasi memetakan gua di Sanghyang Poek yang terbentuk dari hasil karstifikasi (proses pelarutan batu kapur oleh air) ribuan tahun lalu. Sebelum alirannya dialihkan ke bendungan Saguling, Sungai Citarum pernah mengalir di dalam gua ini, tetapi sekarang gua ini cenderung kering karena aliran Citarum dibendung oleh dinding waduk Saguling di hulu, hanya tersisa rembesan air yang menetes dari bekas undercut (arus deras yang menghantam dinding tebing atau batu sehingga membentuk ceruk yang relatif dalam). Aktivitas makhluk hidup di gua ini tidak seramai di Gua Pawon sehingga bau guano tidak terlalu mengganggu kami. Sebagian besar ornamen telah berhenti tumbuh dan sebagian kecil lainnya masih bertahan hidup dari rembesan air yang jernih membentuk stalaktit dan stalagmit yang berkilauan.

Setelah makan siang, kami bersiap dengan baju tempur kami, alat pelindung diri yang dinamai cover all. Fungsinya untuk menjaga suhu tubuh agar tidak berubah secara drastis saat di dalam gua, karena gua pada umumnya memiliki kelembaban relatif tinggi dengan suhu lebih rendah dari permukaan terlebih jika gua itu adalah gua aktif. Setelah briefing dan menentukan struktur organiasai pemetaan gua, kami mulai memetakan dari entrance gua dengan memanfaatkan alat-alat pemetaan sederhana seperti: kompas bidik, pita ukur, alat tulis, dan plastik mika. Sesuai namanya Sanghyang Poek yang berasal dari kata poek dalam bahasa Sunda yang berarti gelap, gua ini gelap jika dimasuki tanpa membawa penerangan. Kali pertama kami memetakan gua, prosesnya berlangsung sangat lambat apalagi beberapa bagian gua bentuknya diagonal  mengharuskan kami bermiring-miring ria untuk melewatinya. Terdapat dua lorong di gua tersebut, satu lorong lebih panjang dari lorong lainnya dan kami memetakan lorong yang lebih pendek. Lagi pula siapa yang tahan memakai cover all  di dalam gua yang hampir mengering dan panas? Hehe ampun instruktur, kami tetap serius berlatih kok. Pemetaan hari itu selesai dengan beberapa evaluasi dari kakak kami.

Penelusuran sungai barusampai sini

Sebagai bonus, Teh Ika (Jantera angkatan 35) mengajak kami menyusuri sungai yang tidak jauh dari gua tempat kami simulasi. Sungai ini cukup lebar dengan bebatuan besar yang tersebar di setiap sisi. Tujuan pertama kami adalah sebuah batu yang bentuknya menyerupai ikan Hiu, untuk mencapai batu yang dimaksud, kami memilih melompati satu batu ke batu yang lainnya. Tidak semua batu bisa kami jadikan pijakan, alhasil kami harus melewati jalur air untuk sampai kesana. Pohon-pohon besar masih mendominasi dengan akar-akar gantung alami yang khas sebagai penanda jarang terjamah manusia. Perbukitan tegak berdiri mengelilingi kami, jadi teringat peribahasa ‘Bandung di lingkung gunung’ dan mungkin beginilah miniaturnya. Batu Hiu telah kami lewati, tapi rasa ingin tahu kami belum surut, semakin jauh kami berjalan semakin dalam sungainya, katanya sekitar satu kilometer dari tempat kami berhenti ada kolam dengan air yang lebih jernih dan bisa digunakan untuk berenang. Sebenarnya masih penasaran kejutan apa lagi yang bisa kami dapatkan dibalik bukit-bukit itu, sayang perjalanan kami harus terhenti di tengah-tengah karena hari mulai gelap dan kami mulai kabulusan alias kedinginan (bahasa Sunda). 

Karena perjalanannya bersambung, maka harus dituntaskan, hayu cag geura jalan-jalan jan!

P.S: Tentu setelah masa-masa Pandemi berakhir dan kita sudah berkumpul lagi di Bandung.


jantera

Perhimpunan Pecinta Alam Pendidikan Geografi UPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.