Oleh : Muhamad Akbar

Tepat pukul 2 pagi alarm dari handphone ku berbunyi, tepat ketika kami akan masuk ke dalam. Bergegas aku pun mematikan bunyi nyaring tersebut. Saudaraku Nilam yang melihat kejadian itu bertanya heran kepadaku “ko bawa hape sih?” Pertanyaan nya tak kujawab, sebab tatkala kaki ini mantap masuk ke dalam Gua Bojong, seketika itu pula pernapasan terasa sesak. Oksigen menipis, ada gas aneh yang ku hirup, udara lembab dan dingin. Semuanya terasa tak nyaman. Haruskah aku kembali? Melangkah keluar dan melanjutkan tidur dengan nyaman? Ah rasanya tidak. Berhenti bukan pilihan ketika sudah mulai melangkah, apalagi berjalan mundur. Kulihat saudaraku semuanya yang berjumlah 6 itu, semuanya nampak mantap dengan tindakannya: Caving, menelusuri gua! Maka, kakiku terus kubawa maju, melangkah pasti menuju kegelapan abadi.

Gua Bojong merupakan gua aktif yang terletak di kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya. Dari mulutnya keluar aliran sungai, tanda bahwa didalamnyapun terdapat aliran air. Kami bertujuh, didampingi 2 instruktur, A Azis dan A Islah, melaksanakan penelusuran gua dengan maksud untuk memetakan nya ke dalam bentuk 2 dimensi. Karena gua tersebut adalah gua aktif, maka kering hanyalah hal fana, utopia yang tak mungkin terwujudkan. Belum 5 menit masuk kedalam, kaki kami langsung basah karena harus menerabas sungai bawah tanah yang mengisi seluruh ruang yang ada di dalam gua itu. Benar, Gua Bojong terendam, kanan, kiri, depan, belakang adalah air, tak ada pijakan yang kering. Bisa kau bayangkan rasanya berjalan di dalam air setinggi paha pada pukul 2 malam di dalam zona gelap abadi? Bukan main rasanya!

Dari kiri: Islah, Akbar, Nilam, Zakiah, Indri, Wina, Wijay, Aslah, dan Aziz

Wijay, selaku leader tim kami, memimpin perjalanan diikuti Zakiyyah dan Indri dibelakangnya, lalu ada aku ditengah, dan Aslah di paling belakang dengan Wina dan Nilam berada diantara aku dan Ashlah. Di belakang kami bertujuh berjalan dengan mantap dua instruktur yang telah mengajari kami berbagai hal tentang penelusuran gua: A Azis dan A Islah, Wijay pernah masuk kedalam gua ini bersama Ashlah dan beberapa kawan dari Caves Society beserta beberapa instruktur lainnya. Jadi mestinya dia paham betul rute terbaik, yah walau gua ini bukan gua yang memiliki banyak cabang dan belokan, seperti Sanghyang Kenit yang kujelajahi tempo hari.

Suasana Gua Bojong amatlah kontras dengan apa yang ada di luar sana. Diluar, tanah-tanah mengering, imbas kemarau udara gersang, dan tak banyak kata lembab dapat ditemui di sana. Sementara di sini, tak ada kata kering,hanya basah dan lembab yang bisa kau temui di dalam, selain keindahan tak terlukiskan dari ornamen-ornamen gua yang ada didalamnya. Berjajar Gordyn menghiasi dinding gua, lengkap dengan flowstone dan stalaktit di atas. Dibawahnya, berbaris tidak rapi beberapa stalagmit bersama aliran bojong yang dingin, tenang, dan semoga tidak mematikan.

Chamber luas nan indah

Tibalah kami di lorong yang cukup sempit dengan air yang cukup dalam. Kedalaman air berkisar antara perut sampai dada orang dewasa. Atapnya begitu dekat sampai kami bisa menyentuh stalaktit yang masih meneteskan air kapur sebagai bukti bahwa mereka masih tumbuh dan akan terus membesar. Senang rasanya melihat proses maha panjang yang akan menghasilkan ornamen indah penghias gua ini. Setelah melewati lorong sempit itu,kami sampai di aula yang sangat luas.

Chamber, aula besar nan megah. Jangan kau bayangkan aula tersebut seperti gedung pernikahan atau semacamnya, karena yang ini lebih indah lagi. Luas sekali, aku bahkan tak dapat memperkirakan ukurannya selain gambaran dari Wijay bahwa ukurannya 3 kali lipat auditorium FPIPS UPI. Luar biasa. Di tengahnya, terdapat sebuah stalagmit besar yang nyaris menyentuh atap. Dugaanku, aula ini terbentuk dari hasil runtuhan sungai bawah tanah yang terus terus mengikis tanah dan batuan sehingga menimbulkan lubang besar yang kemudian runtuh akibat terjadi kekosongan saat kemarau, dan jadilah aula megah seperti ini. Di lantainya dapat ditemui banyak batuan besar, bukti bahwa ia adalah hasil runtuhan. Gelap, headlamp murahku tak mampu mencapai atap aula ini. Laser meter digital yang kupegang menunjukan bahwa ketinggian atapnya berada pada angka 15-28 m dari lantai. Luar biasa, aku semakin takjub saja.

Stalagmit raksasa di tengah aula Gua Bojong

Masalah muncul tatkala Wijay lupa ke mana harus melangkah, seingatnya lewat sini, ke arah bawah, namun ia ragu. Ashlah yang juga pernah menemaninya masuk ke gua ini juga bingung jalan mana yang harus di ambil. Akhirnya, aku dan Ashlah mencoba menelusuri jalan yang mengarah ke atas, semetara sisanya mennunggu di tengah aula dengan rasa takjub masing-masing. Ternyata, jalan yang kutempuh bersama Aslah adalah jalan buntu, yang menyisakan reptile hole sebagai ujung jalan. Aku yakin akan terjepit di sana jika coba coba masuk. Kemudian ku infokan sang leader bahwa ini adalah jalan buntu. Sejurus kemudian kami menemukan jalan yang benar, yaitu jalan yang tadi di sangka Wijay dengan ragu-ragu.

Pundak Titian

Pemandangan tak berubah, masih dengan keindahan yang sulit untuk dideskripsikan.  Yang membedakan adalah kedalaman air yang semakin dalam saja. Sampai akhirnya kami menemui sebuah kendala lagi. Air semakin dalam, dan kami dihadapkan pada sebuah cekungan dan lubang. Entah, aku bingung sendiri bagaimana mendeskripsikannya. Jadi bayangkan saja kau sedang berjalan di sebuah pipa raksasa, seperti saluran pembuangan di luar negeri. Di bawah, ada sebuah cekungan yang entah sedalam apa, dan di atas ada semacam lubang sempit yang berwujud seperti jembatan diagonal, menyilang dari arah aliran sungai bawah tanah itu. Wijay mencoba maju dan masuk ke dalam cekungan itu dan tenggelam, nyawa nya hampir melayang! lalu aku yang merasa pandai berenang memberanikan diri untuk maju. Sruuuk, kaki ku tiba-tiba tak menapak! Cekungan itu tampak seperti jurang tak kasat mata, aku tak tahu sedalam apa dia. Tak pikir panjang, aku langsung bergegas kembali ke belakang dengan gaya katak, yang terasa amat sulit karena memakai cover all dan sepatu boot karet AP Boots yang menghambat pergerakan . Lalu kemudian Ashlah mencoba keberuntungannya. Diantara kami bertujuh, dia yang paling jago berenang. Dan ternyata gagal juga. Kulihat panik sekali wajahnya ketika tak menemukan pijakan di dalam air sana, segera kutarik kerah cover all nya dan membawanya ke tempat yang lebih tinggi.

Sial, kami tak bawa pelampung! Padahal ada banyak di gudang sekre. Indri merasa amat bersalah akan hal itu, aku juga, dasar aku, logistik tak becus. Ashlah tak habis akal, diusulkanlah untuk melewati lobang macam jembatan yang kudeskripsikan tadi. Namun hal itu juga masalah. Pertama, untuk memasukinya, kita harus memanjat dinding gua yang basah dan licin dan tidak ramah di panjat itu. Kedua, kita sama sekali tidak tahu apa yang ada dibalik lubang itu.

Dasar sialan, jiwa petualang kami menolak berhenti. Ashlah pun ramai-ramai kami gotong agar bisa naik dan mengecek “apa yang ada dibalik lubang.” Penggotongan sukses, dia kini berada di atas dan bersiap memasuki lubang. Setelah ditelusuri beberapa waktu, dia memberi tahu bahwa “apa yang ada dibalik lubang” adalah jalan yang memungkinkan untuk dilalui. Masalah kedua beres, masalah pertama masih menjadi masalah.

Ingat pepatah bahwa di alam bebas, akalmu bisa jadi sangat tumpul atau bisa jadi jenius? Kami mengalami keduanya nyaris bersamaan. Setelah mendapat informasi bahwa kita dapat memasuki lubang itu, dipikirkanlah bagaimana caranya mencapai lubang itu. Cara pertama adalah menggotong, seperti yang Ashlah alami. Cara keduan adalah menginjak “Pundak Titian” yang dialami oleh Wina. Kala itu kami buntu, tak tahu mesti bagaimana agar dapat keatas sana. Akhirnya Wijay merelakan pundak nya untuk diinjak sebagai tangga agar bisa sampai keatas. Dan Wina adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya di “Pundak Titian” itu.

Wina juga menjadi orang terkahir yang menaiki “Pundak Titian” sebab, tak berlangsung lama, kami menebukan sebuah solusi. Webbing oranye yang kami bawa di sulap menjadi eterier, tangga yang terbuat dari tali! Webbing tersebut kemudian disangkutkan kepada sebuah horn atau batu yang menonjol yangnampak seperti tanduk yang ada di dinding gua. Kamipun bergantian menaikinya, dan penjelajahan dapat dilanjutkan.

Gourdam eksotis yang terpaksa ditapaki

Kami terus berjalan menyusuri basah dan gelap, hingga suatu ketika  kami berjumpa dengan kompleks Gourdam indah nan elok. Bukan main indahnya kolam-kolam karts alami itu berundak-undak ibarat sawah di bukit. Di dalamnya, nampak kristal-kristal kapur yang berkilau ketika bertemu cahaya. Indah, eksotis! Sekali lagi, Indah tak terlukiskan. Namun perjalanan mesti berlanjut, dan satu-satunya jalan adalah dengan menginjak dan melewati Gourdam-gourdam itu.

Indri sedang mencatat ornamen yang ada di dalam Gua Bojong

Kulihat Indri diam sejenak, dan kemudian kutanya kenapa. Katanya, dia tak tega menginjak mereka terlalu indah. Aku sepakat. Siapa pula yang tega menginjak gourdam yang terbentuk ratusan, bahkan ribuan tahun itu, apalagi fakta bahwa mereka masih aktif, masih bertumbuh! Tapi penjelajahan harus tetap dituntaskan. Mustahil kami berhenti di sini. Yang mesti dilakukan adalah meminimalisir dampak yang kami timbulkan. Dan semoga kami sukses melaksanakannya.

Bertemu jalan keluar

Perjalanan berlanjut, pemandangan tetap indah, tak berkurang. Yang bertambah hanya dingin karena kami telah berada nyaris dua jam kami berada di dalam gua dengan kondisi basah kuyup. Hingga akhirnya, akar tumbuhan muncul dari langit langit gua di ujung sana. Nampak pula sedikit cahaya di kegelapan. Tanda bahwa kami telah sampai di ujung, di extrance Gua Bojong. Senang bukan kepalang tatkala kami kembali menginjak tanah. Basah tubuh kami di sambut angin dingin dini hari. Tepat ketika kami merebahkan lelah, azan berkumandang di masigit. Tanda bahwa kami telah memasuki waktu Subuh. 2 jam lebih adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke ujung gua. Kami senang, sekaligus khawatir karena mesti memetakan gua sepanjang itu, berapa waktu yang dibutuhkan? Apa target keluar pukul 10 dapat terealisasikan? Ah sudahlah, ini waktunya istirahat! Nanti lagi kita cemaskan hal itu.

Setelah mengistirahatkan lelah, kami kemudian berdiskusi tentang teknis pemetaan yang akan segera kami laksanakan. Kemudian dipilihlah leap frog method sebagai metode pementaan dengan arah bottom to top. Alat-alat pemenaat kami keluarkan dari dalam dry bag. Kami shalat Subuh bergantian lalu mulai melakukan pemetaan.

Pemetaan dimulai

Benar kata pepatah lain, di dalam Gua, seseorang bisa mendadak tolol. Kami yang sudah belajar dan berlatih melakukan pemetaan ternyata hanya mampu bergerak lambat. Kebingungan. Aku mendadak tak cekatan dalam melakukan pengukuran. Wina dan Nilam begitungaretnya menentukan azimuth dan back azimuth. Semua berjalan lambat. Hingga satu jam berlalu, kami hanya mampu memetakan 2 stasiun dengan panjang kurang-lebih 40 meter. Mungkin istirahat tadi yang berdusai 15 menit setelah sebelumnya menelusuri gua selama kurang lebih 2 jam menjadi penyebabnya. Kami kemudian kembali beristirahat. Menepi di tepian sungai bawah tanah. Dalam gelap yang sunyi itu, kami beristirahat, bahkan sebagian diantara kami sempat-sempatnya tertidur.

Perempuan pembidik ini namanya Nilam!

Lalu pemetaan kembali dilanjutkan. Kini terasa lebih cepat. Semua memiliki energi baru. Kami memetakan lorong demi lorong dengan metode yang telah kami pelajari. Laser distance meter pun dengan sigap mengukur jarak sana sini. Indri dengan piawai membuat sketsa Gua. Zakkiyah mencatat setiap angka yang kusebutkan. Nilam dan Wina memegang pita ukur. Wijay memimpin di depan. Ashlah berjalan dibelakang untuk menjaga barangkali ada yang tertinggal.

Selanjutnya, kegiatan pemetaan menjadi suatu hal monoton. Bidik sana, bidik sini. Ukur sana ukur sini. Semua dilakukan setiap satu meter di dalam gua dengan panjang ratusan meter. Tanpa terasa, waktu menunjukan pukul 10 pagi. Awalnya kami memperkirakan pada pukul 10 pemetaan dapat selesai, namun nyatanya tidak. Kami masih jauh berada dalam kegelapan, tak sedikitpun terlihat tanda-tanda pemetaan segera tuntas.

Berkejaran dengan waktu

Selanjutnya kami berkejaran dengan waktu, berlomba lebih tepatnya. Sebab, dalam surat wasiat yang kami buat sebelumnya- ya, kami membuat surat wasiat sebelum masuk ke sini- berisikan informasi bahwa apabila kami masih belum keluar pada pukul 12, maka segera evakuasi kami! Kami takut membuat orang-orang cemas. Maka kami tak boleh berleha-leha

Sketcher membuat gambar di dalam gua

Pukul 12.00, masih jauh dari kata selesai. Pundak Titian pun belum kami lewati. Mental kami patah, nyaris putus asa. Berjam-jam kami melakukan pemetaan, dan tak kunjung usai. Lelah mulai menyapa tubuh. Dingin tak kunjung hilang meski sudah tengah hari.

Pukul 13.00, kami mulai kelaparan. Seharusnya kami sudah makan dua kali. Tapi nyatanya baru sepotong roti dan beberapa biskuit yang mengganjal perut kami. Ngaret adalah alasan mengapa kami kelaparan. Pikiran mulai kabur. Ketika nilam ditanya apa dia mau makan, dia menjawab dengan mantap tidak mau. Tapi ketika ditawari ayam bakar, lekas dia menjawab mau! Jawabannya berubah dalam sepersekian detik bukti bahwa akal kami mulai berjalan-jalan entah kemana.

Pukul 15.00, pemetaan kembali berjalan lambat.  Basah menjadi kendala. Spidol OHP dan plastik mika yang menjadi alat tulis kami rupanya tak cukup efektif untuk mencatat dalam basah. Kanebo pun tak lagi efektif untuk menghapus. Kemudian kami mulai putus asa untuk memetakan gua secepat mungkin. Pikiran kami tertuju pada satu tujuan: keluar dari gua ini dengan pemetaan yang sukses.

Tak banyak yang dapat dikisahkan dari proses pemetaan gua. Semuanya monoton. Mengukur meter demi meter sejauh ratusan meter. Yang jelas, mental kami di uji. Beberapa dari kami telah patah semangatnya, namun sebagian yang lain menguatkan. Kebersamaan menjadikan kami kuat. Gelap bukan batasan, dingin tak lagi jadi persoalan. Perihal apa yang menanti kami di depan sana, kami tak ambil pusing. Asalkan kami bersama, semua bisa kami lewati.

Potongan surga

Tubuh kami letih, pikiran sudah tak fokus lagi. Langkah telah tak karuan. Perut meronta minta diisi. Lalu tanda-tanda garis finish muncul. Terdengar suara anak-anak di sebelah sana. Kami pun mengenali lokasi ini, ini adalah tempat dimana kami pertama kali basah, awal dari semuanya! Aku bersemangat kembali. Sedikit lagi, misi kita tuntas, pemetaan selesai!

Pengukuran mulut gua Bojong menjadi akhir dari pemetaan ini. Setelah keluar, kami bertegur sapa dengan ibu-ibu yang sedang memandikan anaknya. Dan ketika aku menghirup luar, muncul persaan asing. Senikmat ini kah bernapas lega? Jam digital memberitahu kami bahwa sekarang pukul 17 lebih. Luar biasa. Kurang lebih 15 jam yang lalu kamu masuk ke sini, dan sekarang kembali lagi dengan perasaan yang berbeda. Lelah,senang, bahagia, kecewa, menyesal, semuanya campur aduk. Tak banyak yang kita lakukan di mulut gua. Kami bergegas pulang menuju basecamp, tempat kami melepas lelah.

Matahari sore menyapa kami, cavers muda Jantera

Di perjalanan pulang, kami disambut matahari sore yang seolah enggan tenggelam sebelum memberi kehangatannya pada kami sore itu. Hangat. Senikmat inikah paparan matahari senja? Kami masuk ke dalam gua sebelum mentari terbit, dan kini, kami sempat berpamitan pada nya yang hendak tenggelam. Ah, kalimat yang ditulis zakkiyah sangat menggambarkan perasaanku saat itu.

Kepingan surga jatuh di bumi Tasikmalaya.
Tertanam di kedalaman tanah dengan cadangan air melimpah. Megah aula bawah tanah – lokasi persembunyian kejaran penjajah. Adalah “dibojongkeun” adalah “dikumpulkan”.
Kini, masyarakat mengenalnya dengan nama Bojong, salah satu gua aktif di Kabupaten Tasikmalaya. Atap berhias stalaktit, lantai berhias stalagmit, bertangga gourdam berbalut flowstone bertirai gourdin. Mahakarya yang luar biasa, dari tangan Sang Pencipta.
Takdir membawa kami kepadanya, kecantikan dalam gelap dan damai dalam senyap.
Dingin dikedalaman juga hening dikegelapan tidak mampu mengalahkan hangatnya persaudaraan.
Kami kian dekat, genggaman kami kian erat dan tekad semakin kuat untuk tidak mengakhiri ekspedisi kami disini.
Jiwa muda membara, mendamba kepingan lain yang jatuh dari surga.
Tenang tanpa terang, sunyi dalam senyap. Bravo Jan!
Ah sod, dari sekian juta alasan yang memintamu untuk berhenti, adalah kalian alasan bagiku untuk bertahan. Bersitegang dengan rasa sakit, mendaki sambil merangkak. Jika kepingan surga telah kita genggam untuk melihat seberapa kecilnya manusia, maka pantaskah bagi seonggok tanah untuk menjarah dan tidak beramah tamah?

– Zakiyah (2019)

jantera

Perhimpunan Pecinta Alam Pendidikan Geografi UPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.