Oleh: Indri Megantara

Saat itu Agustus 2019, adalah bulan-bulannya persiapan penjelajahan. Sebelum kami dilepas untuk menjelajah secara mandiri, kakak-kakak kami di Jantera ngasuh adiknya yang saat itu masih Anggota Muda. Pada awalnya saya memilih matalatih hutan gunung, tetapi takdir menuntun saya menjadi penjelajah kedalaman perut bumi bersama enam saudara yang lain di matalatih caving dan speleology. Kegiatan ngasuh ini sebenarnya masih dalam satu rangkaian Jalan-jalan Jan, yaitu sebuah tagline yang digunakan ketika ada kegiatan jalan-jalan a la Jantera. Ngasuh kali ini tidak jauh-jauh, masih di sekitar Bandung Raya tepatnya menuju Sanghyang Kenit. “Nyaho ngaran tambuh rupa,” begitulah kira-kira kondisi saya saat itu yang hanya mengetahui nama Sanghyang Kenit tapi sekalipun belum pernah mengunjunginya. Beberapa kali mendengar cerita Sanghyang Kenit menumbuhkan rasa penasaran untuk melihatnya secara langsung.

Sebelum matahari meninggi kami sudah berkumpul di sekretariat Jantera dengan beberapa perlengkapan caving yang kami bawa. Mengendarai sepeda motor ramai-ramai, saya dibonceng Akbar ‘Rero’ berangkat menuju Cisameng, Rajamandala Kulon, Kabupaten Bandung Barat. Jalan menuju Sanghyang Kenit ini cenderung mulus beraspal, jika ditempuh dari kampus UPI yang berjarak 42 kilometer hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Sanghyang Kenit sudah menjadi tempat wisata yang diberdayakan oleh masyarakat setempat dan bertarif lima ribu rupiah perorang untuk memasuki kawasan, belum termasuk tarif parkir dan penelusuran gua.

Berjalan menuju Sanghyang Kenit

Sanghyang Kenit memiliki rongga gua yang terbentuk akibat aliran sungai Citarum. Tidak jauh dari sana terdapat aliran Ci Tarum lama yang lokasinya masih berdekatan dengan Sanghyang Poek dan Sanghyang Tikoro, airnya jernih. Aliran sungai yang dibendung di PLTA menyebabkan aliran sungai surut menyisakan bebatuan besar yang terlihat gagah yang kini bertransformasi menjadi spot foto. Sanghyang Kenit menyajikan keindahan alam berupa pemandangan yang menawan dengan warna air sungai yang terkadang berwarna hijau terang, biru hingga biru kegelapan. Sewaktu-waktu sungai yang surut itu bisa terisi penuh ketika pintu bendungan dibuka di jam-jam tertentu. Debit air yang tinggi menghasilkan arus cukup kuat, momen ini dimanfaatkan oleh pegiat olahraga arus deras untuk berlatih menggunakan kano.

Mengamati stalaktit di dalam lorong Sanghyang Kenit

Bagi wisatawan dengan minat khusus seperti caving, Sanghyang Kenit memiliki gua yang menarik di jelajahi. Ornamen-ornamen khas gua seperti stalaktit dan stalagmit menghiasi sudut gua. Mengenakan helm, pelampung juga sepatu boots kami diitemani pihak pengelola menjelajahi lorong-lorong gua, beliau menceritakan bagaimana Sanghyang Kenit ini difungsikan jauh sebelum menjadi tempat wisata. Konon katanya Sanghyang Kenit digunakan oleh orang tertentu untuk bertapa dan tinggal di dalam gua, ditemukannya beberapa perkakas dapur memperkuat dugaan tersebut. Penamaan Kenit diambil dari kata kenit yang berarti arus memutar, namun sebagian warga meyakini nama kenit ini diambil dari nama salah satu jenis domba yang biasa digunakan untuk sesembahan pemuka adat pada masanya.

Setelah menelusuri lorong-lorong Gua Sanghyang Kenit, kami merayapi batu

Tingkat kegelapan gua ini cenderung berada pada zona senja, yaitu zona yang tidak terlalu terang juga tidak se-gelap zona gelap abadi. Beberapa bagian gua yang masih tergenang setinggi perut dan bebatuannya yang licin menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Ekosistem di gua ini bisa dikatakan masih terjaga, dibuktikan dengan masih ditemukannya hewan-hewan khas gua seperti ikan Baung dan Gabus meskipun tidak dalam jumlah banyak. Kurang lebih tiga puluh  menit dalam gua, pejelajahan kami berakhir di depan lubang Bongborotan, jika penelusuran dilanjutkan akan tebus ke extrence Sanghyang Tikoro di hulu. Kami memilih melipir merayapi batu-batu besar di samping sungai Citarum dan bergerak menaiki bukit untuk kembali ke tempat penyimpanan barang. Hal tersebut kami lakukan karena sebelumnya pihak PLTA membuka pintu bendungan, menyebabkan air memasuki lorong-lorong gua.

Berfoto di dekat lubang Bongborotan, Sanghyang Kenit

Tidak sempurna sebuah perjalan jika tidak ada momen yang dapat diabadikan dan berfoto bersama menutup penjelajahan kami hari itu. Sanghyang Kenit adalah sebagian kecil dari harta karun tersembunyi di Kabupaten Bandung Barat, jadi jangan lupa untuk terus #jalanjalanjan!


jantera

Perhimpunan Pecinta Alam Pendidikan Geografi UPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.