Oleh: Ika Kartikasari


“Bagi kami, berita-berita seputar masalah itu menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih besar tentang wujud Patahan Lembang, karena selama ini kami hanya mengenalnya lewat cerita, kunjungan yang tidak utuh, atau pun melihat bentangannya dari jauh. Gambaran samar itulah yang menuntun kami untuk membuang rasa penasaran dalam indahnya jalan-jalan.”

– Oka Sumarlin, Lima Hari Menelusuri Patahan Lembang

***

Babachtiaran!

Angkot putih Stasiun Hall – Lembang membawa kami ke arah utara. Jalan menuju Lembang masih lenggang, cahaya matahari dengan sudut kecil menembus jendela angkot yang terbuka, satu-dua penumpang akhirnya turun lebih dulu. Tujuan pertama adalah Pasar Lembang, dari sana baru mencari angkot lain yang akan melewati Maribaya, titik terakhir penelusuran yang dilakukan oleh Kadat Angga dan Om Gelar sebelum akhirnya bubar jalan untuk recovery dan mengganti gaya penelusuran menjadi one day pack dengan sistem ngawarung (memanfaatkan warung pinggir jalan untuk beristirahat dan menambah energi). Kabar penelusuran Patahan Lembang yang dilakukan oleh dua senior ini sempat bikin panas adik-adiknya yang terjebak tugas kampus dan tugas akhir. Sambil terus memantau lewat postingan di Instagram, malu-malu saya bertanya kapan akan dilanjut lagi. Kabar baik, penelusuran berlanjut pada tanggal 6 Maret 2020 dengan sistem yang direncanakan sebelumnya, pakai daypack!   

Pergantian gaya penelusuran bukan tanpa alasan, setelah tiga hari berjalan di tempat-tempat sunyi dan indah di atas dinding tegak patahan yang ditutupi vegetasi dimulai dari Palintang-Gunung Palasari-Batu Lonceng-Cadas Jojontor-Maribaya, penggunaan lahan yang akan dilalui selanjutnya adalah permukiman padat Bandung utara lalu setelahnya ada segmen barat patahan yang sudah tererosi dan tertimbun material letusan gunungapi, bidang-bidang patahan semakin tidak jelas dan mengaburkan konsentrasi. Bergabung kedalam tim Babachtiaran (jalan-jalan beratmosfer geografi gaya Kang Bachtiar) baru dilakukan per tanggal 6 Maret 2020, sedangkan penelusuran sudah berjalan sejak bulan November 2019! Meski begitu, keinginan memperhatikan Patahan Lembang dari dekat sekali menjerumuskan saya pada perjalanan di sekitar bidang patahan dan hutang membuat tulisan setelahnya.       

Kami sampai di Maribaya, tepatnya disekitar loket masuk Tahura Djuanda, Kadat Angga mencoba mengingat titik terakhir penelusuran. Kami berusaha masuk kembali kedalam jalur patahan untuk melanjutkan ngamumunggang dalam bahasa Sunda berarti kegiatan menelusuri punggungan. Kegiatan ini akan menjadi derita berkepanjangan jika tidak dibekali dengan peta dan alat navigasi lainnya. Tiga buah peta Rupabumi yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal tahun 2000-an lembar 1209-224 Padalarang, lembar 1209-313 Cimahi, dan lembar 1209-314 Lembang disatukan lalu ditumpang susun dengan garis patahan hasil penelitian Pak Mudrik (LIPI). Kelak peta itu yang akan memandu kami menuju ujung patahan. Disekitar gawir-gawir curam pemisah jalan setapak yang kami lalui dengan jalan Lembang-Maribaya banyak ditemukan pohon bambu, akar-akarnya kuat memeluk tanah sehingga kemungkinan terjadi erosi diperkecil, pengguna jalan Lembang-Maribaya akan sedikit tenangmelewatinya ketika musim hujan.

Ada Apa Dengan Gunung Batu?

Melepas pandang ke arah utara dari puncak Gunung Batu
Foto: dokumentasi pribadi

Gunung Batu (1336 m dpl) merupakan salah satu tempat yang populer sepanjang 29 km Patahan Lembang. Diatas puncak Gunung Batu, kita dapat melepas pandang dengan bebas pada gunung-gunung yang mengelilingi cekungan Bandung, pada bangunan-bangunan di kota Bandung yang kian padat, juga pada bukit-bukit kapur yang menyembul berwarna putih di sebelah barat. Panorama gunung Tangkubanparahu terlihat seperti perahu terbalik di sebelah utara, mengutip cerita tentang Sekis Mika punya Oka Sumarlin: “Manusia berakal, dan aku memiliki wujud untuk ditafsirkan. Aku yang lebih dulu ada, menyimpan catatan-catatan tentang asal-muasal. Tubuhku adalah lorong waktu, anak tangga menuju pintu-pintu rahasia…” berbagai bentang alam yang saat ini tampak dihadapan kita adalah lorong waktu, bukti nyata untuk dicari tahu proses pembentukannya di masa lalu.

Di atas puncak Gunung Batu, mari coba bayangkan sebuah gunungapi raksasa dengan ketinggian ± 4000 m dpl di utara kota Bandung lengkap dengan gunungapi parasit di tubuh bagian barat dan timurnya: gunung Burangrang dan gunung Bukittunggul. Gunungapi raksasa itu bernama gunung Sunda Purba, dinding tegak kalderanya dapat kita saksikan dari puncak gunung Burangrang. Menurut sebuah sumber, Patahan Lembang terbentuk kala plistosen (500.000-200.000 tyl) setelah letusan dahsyat gunung Sunda Purba yang mengakibatkan adanya kekosongan penampung magma, beban berat bagian tubuh gunung tak tertahankan, terjadilah pematahan lapisan batuan. Morfologi gunung Batu berupa tebing andesit memanjang. Selain menjadi tempat terbaik untuk belajar geologi cekungan Bandung, gunung Batu juga ramah pada penggiat olahraga panjat tebing.

Setelah gunung Batu, ada bangunan-bangunan terkenal di Lembang yang berdiri di atas bidang patahan. Mendatangi kembali sebuah tempat dengan pengetahuan yang berbeda barangkali akan jauh lebih menggembirakan, namun karena mengejar angkutan umum menuju Garut, akan mengahadiri pernikahan Ai Yanti dan Kadat Ali, saya izin pulang duluan. Tim Babachtiaran yang lain masih melanjutkan perjalanan. “Bagaimana jika observatorium Boscha digoyang gempa berkekuatan 6 skala Richter? Melalui skenario terburuk’ ala Pak Rovicky (Ahli Geologi), gempa bumi berpotensi meruntuhkan kubah teleskop juga longsornya kompleks observatorium Boscha.” Barangkali para ahli geofisika telah membuat rencana rekayasa paling baik dengan memperkuat struktur bangunannya atau rencana merelokasi observatorium Boscha. 

Berakhir di Bawah Tol Purbaleunyi

Sistem one day pack berakhir di daerah Parongpong, belum sampai ujung patahan. Penelusuran dilanjutkan kembali pada tanggal 17 Maret 2020, angkot adalah pilihan paling baik untuk menuju titik penelusuran sebelumnya. Lipatan peta Rupabumi dibuka, jarum kompas berputar mengikuti kutub-kutub magnet bumi, arah utara pada peta disesuaikan dengan utara bumi, nilai koordinat bujur dan lintang disebutkan. Haar! Ternyata garis hitam (Patahan Lembang) yang belum kami lalui masih membentang panjang melewati permukiman, sawah, kebun, sungai, dan jalan. Warna-warni penggunaan lahan pada peta Rupabumi yang dilalui oleh garis Patahan Lembang sebelah barat lebih meriah, tempat-tempat ini sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia yang tinggal disekitarnya.

Kami berjalan melewati kebun-kebun milik warga, mengikuti pematang kebun bayam, diajak turun lebih rendah lagi hingga bertemu aliran Ci Mahi yang dibelokan ke arah barat oleh bidang patahan. Pada peta Rupabumi dengan skala 1:25.000 lembar 1209-313 Cimahi tahun 2001, digambarkan dengan jelas bentang alam menakjubkan hasil kerja patahan Lembang dalam waktu yang lama sekali. Sayang kami tidak membawa meteran/pita ukur, padahal jika diukur datanya bisa menambah informasi  ‘aliran Ci Mahi yang dibelokan bidang patahan’. Tempat ini bernama Kampung Paneunteung, Desa Cihanjuangrahayu. Melalui Kamus Umum Basa Sunda diketahui bahwa Paneuneung asal katanya eunteung yang berarti kaca, paeunteung-eunteung berbeda lagi artinya jadi berhadap-hadapan. Barangkali, dijadikan toponimi karena tempat ini berhadapan langsung dengan gawir-gawir patahan.  

Sebelum mencapai Kampung Pasirhalang di Desa Tugumukti yang dilalui bidang patahan, kami bergerak melewati kebun-kebun warga, bangunan-bangunan, sutet-sutet tinggi dengan berbagai nama stasiun televisi nasional, belakangan kami ketahui bahwa itu adalah pusat stasiun pemancar televisi untuk jangkauan Bandung Raya dan sekitarnya. Menyebrangi jalan raya Kolonel Masturi lalu mencoba beberapa pintu kebun yang diperkirakan dapat membawa kami ke Pasirhalang. Melintasi Kampung Muril di Desa Jambudipa, kampung ini menjadi buah bibir karena gempabumi yang merusak 385 rumah pada tahun 2011. Petani-petani yang sedang bekerja di ladang, sebagai penunjuk arah yang ramah, beberapa melontarkan pertanyaan “Bade kamana?” hingga “Bade kasaha?”. Melihat kami muncul diantara pematang kebun dengan pakaian olahraga, sepatu dan tas punggung, barangkali menimbulkan tanda tanya di kepala mereka.

Tempat-tempat yang akan kami jangkau selanjutnya berada di punggungan yang berbeda. Perpindahan dilakukan dari satu punggungan ke punggungan lainnya dengan cara meulah pasir (memotong punggungan) berarah timur laut-barat daya, dari Pasirhalang menuju Pasirlangu. Bentang alamnya bergelombang! Jika bentuk morfologi patahan Lembang yang populer di media adalah gawir-gawir tegak melintang berarah timur – barat diwakilkan oleh penampilan Cadas Jojontor dan Gunung Batu, hal itu tidak berlaku di beberapa titik patahan bagian barat. Perbedaan jenis batuan membuat beberapa sudah tererosi. Kabarnya, proses pembentukan Patahan Lembang segmen timur dan segmen barat berbeda. “Bagian timur terbentuk lebih dulu (200.000 tyl) sedangkan bagain barat terbentuk setelahnya (27.000 tyl). Keduanya bertemu di sekitar perbukitan Gunung Batu – Boscha yang diyakini sebagai titik tengah Patahan Lembang.”

Lansekap ujung barat Patahan Lembang
Foto: dokumentasi pribadi

Hari menjelang sore, orang-orang di Desa Cimanggu masih melakukan aktifitas diluar rumah. Sambil melintas, beberapa kami jumpai di pekarangan rumahnya, di jalan, di sungai dan di warung. Kami berhenti disana, kembali membuka peta dan kompas, menentukan posisi di peta lalu mengambil keputusan. Ini sudah sangat dekat dengan ujung Patahan Lembang yang berakhir di sawah irigasi. Keputusan untuk mengikuti jalan penghubung antar kampung akhirnya semakin memperpendek jarak kami dengan ujung patahan. Mendung sudah menggantung di Langit Cimanggu, hujan turun. Berbekal naluri menyelamatkan diri, kami berteduh sambil memperhatikan sebuah punggungan searah barat barat daya tepat dibawah tol Purbaleunyi. Punggungan berselimut vegetasi hijau dengan sawah-sawah terasering berundak di tubuh bagiana bawahnya, landmark lain yang terlihat adalah jembatan kereta di sebelah utara dan selatannya. Coba tadi di warung kami lebih teliti membaca peta, walaupun menghabiskan lebih banyak waktu, mungkin kami akan datang dari atas sana. Di atas kepala atau buntut ular panjang ‘Patahan Lembang’.

***

Setelah ini, deretan kata-kata buatan Oka Sumarlin yang jadi kerangka cerita muncul kembali. Duh Mang! Patahan Lembang bagian timur bagaimana rupanya? Kabarnya ada peninggalan budaya megalitik di puncak gunung Palasari? Saya baru mengenalnya lewat cerita-cerita. Ada yang mau ikut menyusuri bidang patahan yang mengular sepanjang 29 km sambil Babachtiaran? Hayu baturan remidial!

Setelan Aman Menelusuri Patahan Lembang:

  1. Baju (menyerap keringat dan nyaman)
  2. Celana panjang (nyaman dan gampang kering, di kebun banyak reungit)
  3. Sepatu
  4. Topi
  5. Jam tangan
  6. Backpack
  7. Sudah dilapisi lotion anti nyamuk dan tabir surya

What inside your backpack?

  1. Air minum, sesuaikan dengan kebutuhan pribadi
  2. Raincoat
  3. Headlamp/senter
  4. Snack dan permen kesukaan
  5. Bekal makanan berat (nasi/roti)
  6. Obat pribadi
  7. Alat navigasi manual (peta, kompas, alat tulis, penggaris/protaktor)
  8. Handphone
  9. Kamera pocket
  10. Buku catatan untuk mencatat hal-hal menarik selama perjalanan
  11. Alat-alat lain yang sekiranya akan mendukung perjalananmu (misal pita ukur)

jantera

Perhimpunan Pecinta Alam Pendidikan Geografi UPI

1 Komentar

ahmad · Mei 1, 2020 pada 8:36 pm

Sangat menginspirasi! Semoga segera muncul konten-konten baru dan semakin lincah lagi untuk menguak ide-ide cemerlang hasil menjelajah alam. Bravo Jantera!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.