Monthly Archives: Juli 2016

Kidulan di sepanjang Garut Selatan

janteraPantai mah kidulan, bermain lagi kesini lain kali ya Nak!” begitulah kira-kira ucap seorang Bapak penjaga penginapan tempat mahasiswa Geografi 2012 melaksanakan praktikum sebelum kami pulang menuju Kota Kembang. Disebut kidulan mungkin karena cerita sang Ratu Pantai Selatan yang telah melegenda di sepanjang selatan Pulau Jawa, tetapi aku sendiri belum mengerti maksud perkataan beliau tersebut. Mungkin ada hubungannya dengan syuting film itu? Atau dengan kelima mahasiswa yang masih belum ditemukan itu? Entahlah. Yang pasti itu adalah Pantai Selatan!


Sisa Kerajaan Melayu di Tengah Pemukiman Batak

Tahta Raja Istana Maimun

Tahta Raja Istana Maimun

Istana Maimun atau sering juga disebut Istana Putri Hijau yang konon katanya didirikan untuk Putri Hijau adalah salah satu dari ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di Kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun. Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888.

Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Timur Tengah, Moghul, Spanyol, India, Belanda dan Italia. Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk pintu dan jendela yang lebar dan tinggi. Tapi, terdapat beberapa pintu yang menunjukkan pengaruh Spanyol. Pengaruh Timur Tengah tampak pada keberadaaan lengkungan (arcade) pada atap, namun sayang keadaannya kurang terurus.

Seperti yang kita ketahui bahwa Medan mempunyai Suku Melayu sebagai suku aslinya. Namun, kini penduduk Suku Melayu hampir tidak tampak keberadaannya karena suku batak dengan mobilitas yang tinggi telah mendominasi. Walaupun demikian, Sang Lancang Kuning tetap berdiri tegak menyombongkan kilau emas nya kepada setiap orang yang melihatnya, sehingga rasa penasaran dan rasa bangga pasti tersirat di hati orang-orang yang melihatnya.

Sungaiku Kini

Tak pernah berhenti mengalir dari hulu hingga hilir

Diciptakan dengan beragam manfaat dan keindahan

Dari tuhan untuk makhluknya

Makhluknya yang menyia-nyiakan ciptaan bernama sungai

 

Legenda Tsunami Letusan Gunung Krakatau

Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir selat sunda yaitu selat yang memisahkan pulau Jawa dan Sumatra, nama gunung Karakatau sudah tidak asing lagi di dengar, gunung tersebut menyimpan historis yang cukup dalam bagi masyarakat sekitar.  Gunung yang terletak di selat sunda tersebut tergolong gunung yang masih aktif, masuk kedalam gunung berapi tipe A. Gunung ini pernah beberapa kali mengalami letusan pada zaman kolonial Belanda, dengan letusan terbesar terjadi pada 26-27 Agustus 1883 Masehi, letusan tersebut sangat dasyat sampai menimbulkan Tsunami, material yang dimuntahkan ke angkasa membuat langit menjadi gelap selama beberapa hari, dentum letusannya terdengar sampai Singapura dan Malaysia, abu vulkanik menyelimuti daratan besar sumatra dan jawa.

Gelombang tsunami yang timbul menghancurkan pesisir pantai yang ada di selat sunda dan teluk semangka serta menewaskan sekitar + 36.000 jiwa masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir tersebut. Pada waktu itu jumlah penduduk indonesia masih di kisaran 30 Juta Jiwa, bisa di bayangkan jumlah korban tersebut tebilang sangat besar dengan asumsi masyarakat yang tinggal di pesisir itu tidak sepadat pada zaman sekarang. Kapal-kapal  besar yang sedang sandar pun hanyut kedaratan dengan radius lebih 5 km* dari garis pantai (*menurut keterangan warga, sempat ditemukan sebuah kapal besi ditengah-tengah daratan, namun sayang kapal tersebut telah tertimbun material tanah sehingga sudah tidak terlihat lagi; sumber: Kades Karang Rejo).

Geotrek Bersama Mata Bumi

Saat itu ketika saya diajak mewakili jantera untuk menjadi panitia Geotrack yang diselenggarakan oleh Matabumi, Matabumi adalah perkumpulan senior senior kami di Jantera untuk mewadahi Anggota Luar Biasa atau anggota yang telah lulus akademik untuk tetap ber kegiatan alam terbuka. Hari Kamis 7 maret aku bersama Kadat pergi ke Markas mata bumi untuk rapat mengenai acara yang akan diselenggarakan lalu hasil rapat hari itu adalah bahwa esok hari kami akan berangkat ke Gunung Jayagiri untuk survey dan juga membawa sebagian bahan makanan untuk geotrack nanti, sore hari kami berangkat dari markas menuju Lembang saat itu Saya, Kang Gelar, Kang Rony dan Kang Hasanudin yang pergi untuk membawa logistik dan untuk menikmati malam yang dingin di Jayagiri. Diperjalanan kami membeli beberapa bahan makanan untuk sebagai perbekalan kami nanti malam di Sana. Sekitar pukul 4 sore kami tiba di gerbang jalur untuk pendakian ke Jayagiri yang biasa sering disebut Taman Junghun, karena digerbang kami melintasi Taman Junghun yang menjadi situs wisata disana.

Perjalanan Lintas Generasi menuju Gua Buniayu

Ada Dewan Pelopor Jantera, yaitu Kang Bach dan Teh Nenden. Ada angkatan IV Prahara Sangkuriang, yaitu Kang Ogun bersama Teh Yanti. Ada angkatan XXIX Gentra Yudha Kelana, yaitu A Feri “monyong”. Ada angkatan XXXI Samagatha Nilawarsa, yaitu Reza “kumis”, Rizqi “acil” dan Shanny. Serta si bungsu angkatan XXXII Grajag Beswara Sandekala, yaitu saya sendiri, Novi.

Beruntung sekali waktu itu bisa menjadi bagian dalam kunjungan ke Buniayu. Beruntung karena perjalanan tersebut dilakukan bersama senior-senior Jantera. Kang Ogun yang merencanakan perjalanan tersebut, seharusnya kami berangkat bersama mahasiswa Kang Ogun dari STIPAR untuk tujuan pendamping praktikum, tetapi karena beberapa pertimbangan, kesepakatan tersebut akhirnya melebur. Karena tidak enak hati beberapa kali mengundurkan jadwal ke Goa Buniayu, Kang Ogun yang telah mengajak beberapa anggota Jantera akhirnya memutuskan untuk tetap pergi walaupun tanpa mahasiswa STIPAR.

Lebih dekat dengan Jantera 33

Tak terasa, kini J33 telah menjalani bulan ke-4 nya di Jantera. Sejak Februari silam dilantik menjadi Anggota Muda Jantera, telah banyak pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan, terutama setelah menjalani pendidikan lanjutan Rock Climbing dan Ilmu Medan Peta Kompas.

J33 sendiri telah mempunyai nama angkatan yang pada tanggal 26 April telah diresmikan di kampus UPI pada acara ulang tahun Jantera. Brigada Kampita Atyasa. Itulah nama kebanggaan Jantera 33 ini.

Secara gamblang, salah satu anggota J33 menyebutkan filosofi nama angkatannya. BKA atau Brigada Kampita Atyasa adalah…

Setelah deskripsi J33 secara umum, kini kita beranjak untuk melihat wajah-wajah J33 secara khusus atau lebih dekat lagi.