Category Archives: Catatan Perjalanan

Launching Buku ke 3 Jantera, Meniti Cincin Api

Meniti Cincin Api

Dalam kesehariannya, para Jantril-Janterawan tak henti-hentinya menuangkan cerita perjalanannya ke dalam sebuah catatan biasanya dibundel dalam bentuk bulletin. Dalam kepengurusan, bulletin tak hanya jadi hiburan, tak hanya suatu kewajiban melainkan juga sebagai suatu pelepas kerinduan, pencerita suatu perjalanan sehingga menerbitkan bulletin pun dirasa sangat penting walaupun hanya sekedar dicetak di kertas bekas, di print dengan dwi warna, atau hanya di upload di rumah maya. Selain bulletin, buku merupakan tradisi lain dari wajah Jantera dalam berkarya.

Berkunjung ke Gedung Teropong

Bercengkerama di Gedung Teropong Barat

Bercengkerama di Gedung Teropong Barat

Gedung Teropong merupakan gedung yang dibangun untuk kepentingan kegiatan peneropongan bintang. Dengan alasan bahwa aktifitas demikian menjadi bagian penting dalam kurikulum pembelajaran Geografi, maka dengan memanfaatkan riwayat perkawanan Prof. Dr. Soepardjo Adikoesoemo dalam keterangan Tini Soepardjo Adikoesoemo, kemudian meminta bantuan kawannya Prof. Dr. Bambang Hidayat yang selain aktif di kampus ITB sekaligus tengah menjabat direktur pusat peneropongan bintang Boscha di Lembang.

Gayung bersambut, maka gedung tersebutpun dikabulkan. Bentuknya nyaris persegi dengan dimensi yang nyaris kubus. Ruang-ruang bangunan terbagi kedalam peruntukkan yang terutamanya untuk mengakomodasi kepentingan ruang belajar dan perpustakaan; dimana pada bagian lantai atasnya terdapat ruang praktik peneropongan bintangnya. Jadi bisa dibilang suatu prestasi pada zamannya dimana terdapat fasilitas peneropongan bintang selain di Boscha, tentu saja ukuran diameter lensa teropongnya tidak semegah yang dimiliki Boscha; tapi tetap saja prestasi yang spektakuler.

Keterangan ini kami dapatkan ketika Tini Soepardjo Adikoesoemo yang terbiasa jalan-jalan di sore hari keliling komplek kampus dari rumahnya yang juga pada waktu itu di dalam komplek kampus, sedang melewati jalanan didepan Gedung Teropong. Rambut berwarna emasnya memiliki potongan yang pendek sehingga lehernya yang jenjang terlihat indah dan juga bagian telinganya yang dihiasi anting emas cukup besar terlihat mewah. Cara berpakaiannya perpaduan antara kemewahan dan kesederhanaan, dan bukan semua itu yang membuatnya lebih menarik.

Pendakian Gunung Rakutak

Trek Gunung Rakutak

Trek Gunung Rakutak

Mountaineering Dapat diartikan sebagai kegiatan pendakian gunung. Pendakian gunung adalah suatu olahraga keras, penuh petualangan, dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, keuatan serta daya juang yang tinggi. Hutan gunung merupakan kombinasi dari seluruh mata latih yang telah dilaksanakan sebelumnya. Karena pada saat itu kami ingin menikmati indahnya gunung yang dilalui oleh medan yang lumayan agak sulit, maka kami memilih gunung rakutak sebagai tempat kami melakukan diklanjut ini.

Gunung rakutak identik dengan medan yang sangat terjal dengan banyaknya akar yang menyebar di sepanjang jalur pendakian kami dan gunung ini juga terdiri dari dua puncak yaitu puncak 2 dan puncak utama, dan yang membuat khas adalah kedua puncak tersebut dipisah oleh igir yang lebarnya + 2 meter. Kondisi tersebut sangat menarik dan berkesan untuk dilalui dikarenakan menurut beberapa orang gunung ini merupakan sebuah miniatur dari gunung raung yang lokasinya terdapat di jawa timur, tapi yang membedakan adalah puncak gunung raung tidak di temukan adanya vegetasi melainkan hanyalah bongkahan-bongkahan batu besar, sedangkan puncak gunung rakutak masih terdapat berbagai macam jenis vegetasi rerumputan yang menghalangi kita dari terpaan angin secara langsung. Perbedaan tersebut dikarenakan ketinggian kedua puncak gunung tersebut yang berbeda.

Pesona Kegelapan Guha Cipaku

Stalaktit di Guha Cipaku

Stalaktit di Guha Cipaku

Pada kegiatan Pendidikan Lanjutan JANTERA di mata latih caving ini, saya ditugaskan menjadi orang yang menyiapkan konsumsi, kegiatan menyiapkan konsumsi ini bukan merupakan kegiatan yang sangat saya sukai karena saya kurang biasa memasak. Namun karena sudah tuntutan dan dengan dibantu oleh saudara-saudara saya dan rekomendasi instruktur, saya mengerjakan dengan senang hati pekerjaan ini. Dari DIKLANJUT ini, saya jadi mengerti bagaimana berada di posisi orang yang menyiapkan konsumsi untuk saudaranya yang lain.

DIKLANJUT kali ini di barengi dengan program ANTAREJA JANTERA, yaitu menelusuri dan memetakan gua yang ada di kawasan Sagaranten. Sehingga Instruktur yang datang pun bukan sebagai wisatawan yang datang untuk memantau kegiatan DIKLANJUT, namun melanjutkan program ANTAREJA. DIKLANJUT ini bagi kami semua, AM JANTERA 35, merupakan kegiatan yang lebih menguras tenaga waktu dan dompet dibanding kegiatan pendidikan lanjutan yang sebelumnya, karena kegiatannya yang cukup jauh dan membutuhkan waktu dan uang yang lebih. Kegiatan kami kali ini dilakukan di Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi. Tempat yang awan bagi kami untuk datang ke tempat ini. Karena perjalanannya yang luar biasa dan tidak terprediksi akan seperti itu.

Renungan dari Hutan Wanagama I

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Salah Satu Jalan Setapak di Hutan Wanagama

Nanti kita akan berkunjung ke Hutan Wanagama I”, secepat kilat kami menajamkan telinga—memperhatikan apa yang akan dikatakan Bapak X dengan logat Jawa-nya yang khas.

Ah iya, ceritanya kami sedang mengadakan rapat angkatan untuk membahas lokasi KKL Tahap 2, yang kemudian akan dikunjungi beberapa hari setelahnya. Wah, perjalanan yang pasti menyenangkan!” seru kami dalam hati.

Perkenalkan, kami adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI, sebuah prodi yang menawarkan sepaket perjalanan liburan berbasis akademik. Jadi menurutku kami adalah sekumpulan orang yang beruntung, yang bisa belajar langsung dari alam sekaligus me-refresh pikiran dari beban perkuliahan yang terkadang membuat penat.

Benar, namanya adalah Hutan Wanagama I, nama yang terdengar sangat asing di telinga kami (bahkan mungkin juga di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia). Tapi, sepertinya tidak untuk masyarakat Gunung Kidul dan sekitarnya. Hutan Wanagama I bahkan sudah seperti oase menyejukkan di tengah padang gersang yang mereka tinggali selama bertahun-tahun.

Pendakian Gunung Raung

Jalan Setapak Menuju Puncak

Jalan Setapak Menuju Puncak

Gunung Raung merupakan salah satu gunung yang berada di ujung timur pulau Jawa dan termasuk gunung terekstrim di Indonesia. Gunung yang memiliki ketinggian 3344 mdpl ini merupakan gunung tertinggi ke dua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru. Selain itu, gunung yang terakhir meletus Juli tahun 2015 ini memiliki kemenarikan tersendiri, yaitu kaldera nya yang cukup luas serta medan yang cukup ekstrim untuk dilalui para pendaki untuk mencapai Puncak Sejati.

Ada beberapa jalur yang biasa dipakai untuk mendaki gunung raung yaitu Sumber Waringin (Bondowoso), Kalibaru (Banyuwangi), Glenmore (Banyuwangi). Namun karena yang kami tahu jalur via Kalibaru merupakan jalur yang menantang, akhirnya kami melakukan pendakian menggunakan Jalur Kalibaru. Pendakian kali ini beranggotakan 3 orang termasuk saya. Untuk mendaki sampai Puncak Sejati, pendaki diharuskan menggunakan peralatan climbing seperti Harness, tali Kernmantel, Carabiner, figure of eight, dan peralatan lain yang berfungsi untuk mengamankan. Selain itu, ada persyaratan administrasi lain yang harus dipenuhi untuk bisa mendaki gunung ini, diantaranya surat keterangan sehat, fotocopy KTP, dan surat keterangan yang akan diberi saat di basecamp.

Kami berangkat dari terminal Ubung, Denpasar menggunakan bis dengan ongkos 80 rupiah sampai stasiun kalibaru dan sudah termasuk ongkos kapal feri. Perjalanan dari Denpasar sampai Kalibaru kurang lebih sekitar 6 jam. Setelah sampai di depan Stasiun Kalibaru kami langsung disambut oleh beberapa tukang ojek yang nampaknya sudah terbiasa dengan kedatangan para pendaki Gunung Raung.

Pesona Kampung Adat Kuta

Melintasi Hamparan Sawah yang Hijau

Melintasi Hamparan Sawah yang Hijau

Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, diwilayah yang berada di ujung timur Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, berdiri suatu Kampung Adat yang memiliki ceritera sejarah yang cukup melegenda, peninggalan dari kerajaan Galuh, salah satu kerajaan Hindu yang ada di Jawa Barat yang berasal dari wilayah Cirebon sebelum Cirebon menjadi kasepuhan dengan memeluk agama Islam yang dibawa oleh para wali pada saat itu.

Berawal dari akan didirikannya pusat kerajaan Galuh di wilayah ini, para prajurit kerajaan mulai membawa seluruh perlengkapan kerajaan dan mulai membuka lahan dari mulanya hutan menjadi bakal komplek kerajaan, namun konon katanya karena ada banjir dari sungai Cijolang yang melanda daerah ini serta beberapa faktor lainnya, maka akhirnya kerajaan Galuh tidak jadi di dirikan disini namun ada beberapa versi ceritera yang berkaitan dengan sejarah Kampung Adat ini dan Kerajaan Galuh.