Category Archives: Carita-carita Jan!

Keberanian

Keberanian menjadi salah satu faktor kesuksesan dalam berkegiatan di alam bebas. Berani itu tahu akan risiko yg akan dihadapi, dalam hal ini kita harus lebih berhati-hati. Ada slogan dari senior kita, berhati-hati bukan berarti lamban, cepat bukan berarti teledor. Berani itu berhati-hati dan tidak teledor. Di gunung hawu ini, kami merasakan pentingnya kehati-hatian dan keberanian, seperti halnya disini, seorang tukang penjaga sendal para pemanjat mencoba berpose diketinggian tanpa menggunakan alat keselamatan. Jangan ditiru dirumah, karena lokasinya bukan dirumah, tapi ditebing. Hahaha
Menurut Anda, dia berani atau teledor dan tidak berhati-hati? Entahlah.

 

Penulis : Yanfau Rizki A.E

Lebih dekat dengan Jantera 33

Tak terasa, kini J33 telah menjalani bulan ke-4 nya di Jantera. Sejak Februari silam dilantik menjadi Anggota Muda Jantera, telah banyak pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan, terutama setelah menjalani pendidikan lanjutan Rock Climbing dan Ilmu Medan Peta Kompas.

J33 sendiri telah mempunyai nama angkatan yang pada tanggal 26 April telah diresmikan di kampus UPI pada acara ulang tahun Jantera. Brigada Kampita Atyasa. Itulah nama kebanggaan Jantera 33 ini.

Secara gamblang, salah satu anggota J33 menyebutkan filosofi nama angkatannya. BKA atau Brigada Kampita Atyasa adalah…

Setelah deskripsi J33 secara umum, kini kita beranjak untuk melihat wajah-wajah J33 secara khusus atau lebih dekat lagi.

Pelantikan Anggota Utama Jantera 34

Pelataran timur FPIPS seakan menjadi saksi bisu untuk sebagian anggota Jantera pada hari rabu yang bertepatan dengan tanggal 25 November 2015 itu. Hari dimana sebagian dari anggota jantera resmi mendapatkan nomor tanda anggota dan merubah status keanggotaanyya dari anggota muda menjadi anggota utama. Adapun anggota jantera yang mendapatkan nomor tanda anggota adalah Lutvia Resta, Nissa Adlina, Suci Fadhila, Mutia, Devi Sukaesih, Nindi, M. Abia, Novriyanto, Chumaini Ali, Herwan Putra, dan Maryam Silmi.

Selain mendapatkan NTA, anggota jantera yang dilantik pada malam itu pun berhak mendapatkan nilai akhir dari semua mata latih yang telah dilakukan, serta sudah berhak memakai baju tempur Jantera.

Dalam acara yang dihadiri oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Upi dan Ketua Biro Aspirasi DPM HMP Geografi itu berjalan secara khidmat dan khusyu.

Semoga dengan telah berubah nya status keanggotaan dari anggota muda menjadi anggota utama dapat menghasilkan karya-karya lagi. Amin.

Penulis: Rizqi Fadilah (Jantera 31)

UPI Rumah kita

“UPI RUMAH KITA”, slogan yang tersebar di beberapa penjuru kampus pendidikan ber-museum ini ternyata memiliki makna yang dalam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah diartikan sebagai bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan secara psikologis, rumah bisa diartikan sebagai tempat tinggal manusia untuk beraktivitas dalam kondisi damai, tentram, dan menyenangkan.

“UPI RUMAH KITA” merupakan slogan yang sengaja dipasang oleh petinggi UPI agar para penghuni kampus ini sadar bahwa UPI yang biasa mereka kunjungi minimal tiga kali dalam seminggu ini merupakan sebuah bangunan yang harus diperlakukan layaknya rumah.

Bermainlah sebagai atau tidak sebagai Jantera

menelusuri Ci Tarum purba“Mari bermain sebagai Jantera atau tidak sebagai Jantera di Citarum Purba”

Seperti disebutkan diatas bahwa dalam berkegiatan, Jantera sebagai Perhimpunan Pecinta Alam Geografi terbuka untuk umum, dalam artian bahwa yang bukan anggota Jantera pun dapat ikut andil mengikuti kegiatan tersebut, terutama pada saat kita sedang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan disiplin ilmu Geografi.

Sebelumnya, Anda pasti bertanya-tanya apa sih Ci Tarum Purba itu? Awalnya juga saya sedikit bingung mengapa disebut purba, karena biasanya yang disebut purba adalah suatu fenomena yang terjadi dahulu kala dalam jangka waktu yang lama sehingga hanya menyisakan jejak atau sisa-sisa saja. Tetapi, anggapan saya tersebut ternyata kurang tepat untuk menyebut purba yang ini. Setelah diskusi di rumah jingga (baca: sekretariat Jantera) baru sedikit mengerti apa itu Ci Tarum purba.

Lebih dekat dengan Jantera 35

_IGP6463

Jantera 35 bersama komandan Pendidikan dan Latihan Jantera 35

Delapan belas hari berlalu, rasanya bangga sekali di umur yang ke 38 tahun JANTERA dapat melahirkan Anggota Muda kembali. Bertemakan, berjuang, berkarya dan bersaudara, 7 mantan siswa Diklatsar xxxv JANTERA mampu menyelesaikan tahapan seleksi menjadi Anggota Muda JANTERA. Syal berwarna putih menjadi tanda kehormatan mereka, yang dimana telah dilukis menjadi berwarna orange. 30 Februari 2016 menjadi saksi sejarah dikenakannya syal orange JANTERA kepada 7 orang yang mampu berjuang, berkarya dan berkeluarga.

Sejarah Topi Lapangan

Istilah topi dalam bahasa Indonesia berakar dari bahasa Urdu atau bahasa Hindi. Dua istilah bahasa yang sebenarnya merujuk pada satu bahasa yang sama yang terpisahkan identitas modern Pakistan dan India. Awalnya, kedua bahasa itu hanya disebut dengan satu istilah saja, yakni bahasa Urdu. Yakni suatu cabang termuda dari rumpun bahasa Indo-Aria (Hindustan). Sementara rumpun bahasa Indo-Aria sendiri adalah rumpun bahasa yang biasa diidentikkan dengan bahasa Sangsekerta, yang menjadi cabang tertuanya dan dikenal melalui bahasa tertulisnya dalam kitab Weda. Sebagaimana umumnya pada semua cabang bahasa Indo-Aria, maka bahasa Urdu juga sangat dipengaruhi oleh bahasa Sangsekerta sebagai lapisan dasar kebahasaannya.

Namun demikian, pada tahap selanjutnya bahasa Urdu mengalami pembauran dengan berbagai bahasa lainnya di luar rumpun bahasa Indo-Aria. Misalnya dengan bahasa Parsi dari rumpun bahasa Indo-Iran yang masih berkerabat dekat dengan rumpun bahasa Indo-Aria; bahasa Turki dari rumpun bahasa Turkis yang identik dengan bahasa dari suku-suku Iranian-Saka (Scytia); dan bahasa Arab dari rumpun bahasa Semit, yang secara kekerabatan dianggap terpisahkan jauh dari keluarga besar rumpun bahasa Indo-Eropa. Sehingga ada kemungkinan jika istilah topi yang terdapat dalam bahasa Urdu, sebenarnya berakar dari bahasa Arab, thaqiyah.