mau tahu lebih tentang Jantera ? Follow US More »

 

Launching Buku ke 3 Jantera, Meniti Cincin Api

Meniti Cincin Api

Dalam kesehariannya, para Jantril-Janterawan tak henti-hentinya menuangkan cerita perjalanannya ke dalam sebuah catatan biasanya dibundel dalam bentuk bulletin. Dalam kepengurusan, bulletin tak hanya jadi hiburan, tak hanya suatu kewajiban melainkan juga sebagai suatu pelepas kerinduan, pencerita suatu perjalanan sehingga menerbitkan bulletin pun dirasa sangat penting walaupun hanya sekedar dicetak di kertas bekas, di print dengan dwi warna, atau hanya di upload di rumah maya. Selain bulletin, buku merupakan tradisi lain dari wajah Jantera dalam berkarya.

Buletin Jantera Edisi Berjalan (September 2016)

Buletin Jantera Edisi Berjalan (September 2016)Salam lestari!

Salam hangat bagi kawan- kawan pembaca setia buletin Jantera, Edisi Berjalan tidak kalah menariknya dengan edisi sebelumnya.

Kali ini Tim buletin Jantera berhasil merekap beberapa cerita perjalanan, sastra, dan seputar kejanteraan yang siap disajikan kepada para pembaca. Bahan bacaan ini masih segar dapat menemani hari-hari pembaca.

 Jantera tiada hentinya berjalan melakukan perjalanan, mulai dari kedalaman Goa, kedataran Pantai hingga ketinggian Gunung.

Edisi berjalan, menjadi tema kami dalam menyajikan tulisan. Setiap insan pastinya selalu berjalan, karena merupakan aktivitas yang selalu dilaksanakan. Berjalan dalam istilah ini adalah melakukan aktivitas yang bermanfaat, menambah pengalaman, ilmu dan pengetahuan.

Berkunjung ke Gedung Teropong

Bercengkerama di Gedung Teropong Barat

Bercengkerama di Gedung Teropong Barat

Gedung Teropong merupakan gedung yang dibangun untuk kepentingan kegiatan peneropongan bintang. Dengan alasan bahwa aktifitas demikian menjadi bagian penting dalam kurikulum pembelajaran Geografi, maka dengan memanfaatkan riwayat perkawanan Prof. Dr. Soepardjo Adikoesoemo dalam keterangan Tini Soepardjo Adikoesoemo, kemudian meminta bantuan kawannya Prof. Dr. Bambang Hidayat yang selain aktif di kampus ITB sekaligus tengah menjabat direktur pusat peneropongan bintang Boscha di Lembang.

Gayung bersambut, maka gedung tersebutpun dikabulkan. Bentuknya nyaris persegi dengan dimensi yang nyaris kubus. Ruang-ruang bangunan terbagi kedalam peruntukkan yang terutamanya untuk mengakomodasi kepentingan ruang belajar dan perpustakaan; dimana pada bagian lantai atasnya terdapat ruang praktik peneropongan bintangnya. Jadi bisa dibilang suatu prestasi pada zamannya dimana terdapat fasilitas peneropongan bintang selain di Boscha, tentu saja ukuran diameter lensa teropongnya tidak semegah yang dimiliki Boscha; tapi tetap saja prestasi yang spektakuler.

Keterangan ini kami dapatkan ketika Tini Soepardjo Adikoesoemo yang terbiasa jalan-jalan di sore hari keliling komplek kampus dari rumahnya yang juga pada waktu itu di dalam komplek kampus, sedang melewati jalanan didepan Gedung Teropong. Rambut berwarna emasnya memiliki potongan yang pendek sehingga lehernya yang jenjang terlihat indah dan juga bagian telinganya yang dihiasi anting emas cukup besar terlihat mewah. Cara berpakaiannya perpaduan antara kemewahan dan kesederhanaan, dan bukan semua itu yang membuatnya lebih menarik.

Kosong

Sebuah kata multitafsir

Banyak sekali definisi terurai

Orang menafsirkannya secara harfiah

Orang menafsirkannya secara bahasa

 

Banyak sekali latar belakang yang berbicara

Mulai dari kalangan elit hingga kalangan bawah

Mulai dari yang beriman hingga berdosa

Mulai dari wacana hingga hitam diatas putih

 

Bertabur Cahaya di Kota Bandung

Salam yang kulontarkan dari puncak patahan Lembang

Ini bukan sebuah cerita

Namun hanya perasaan

Sendu, tawa, riang, persahabatan terasa amat erat

 

Hembusan dingin malam mulai menusuk

Cahaya itulah yang menyinari

Lautan cahaya terlihat diatas sini

Menghampar luas

Namun akankah taburan ini selalu indah?

Yaa indah dilihatnya namun tidak untuk dampaknya

 

Puncak Gunung Batu Lembang, 9/9/2014

 

Keresidenan Priangan

Kawanku bilang ini tanah rantauan

Tapi untukku, ini tanah kelahiran

Kawanku bilang disini tempat jajahan

Tapi untukku, terdapat berjuta kebahagiaan

Kawanku bilang disini ada kau

Tapi nyatanya aku masih saja sendirian

Pulang

Aku suka saat duduk di kamar

Hanya ditemani pemikiranku sendiri

Berpikir akan kepastian

Dan aku sadar kalau aku sendirian

 

Memang benar saat kita terpuruk

Akan beranggapan seperti ini

Orang yang mencoba menghiburmu

Adalah sebagai pengganggu